Terapkan 3R, Hotel di Jantung Kota Jogja Dua Kali Raih Sertifikat Green Key

Berbagai upaya dilakukan Novotel Suites Yogyakarta Malioboro untuk menerapkan pariwisata berkelanjutan. Mulai dari mengolah sampah makanan menjadi pupuk, memanfaatkan linen dan handuk bekas menjadi suvenir, menggunakan kembali air untuk menyiram tanaman, hingga menghentikan penggunaan plastik sekali pakai dalam operasionalnya sejak 2022.
Dari berbagai upaya tersebut, hotel yang berada di pusat Kota Yogyakarta ini lolos audit sertifikasi Green Key dua tahun berturut-turut, yakni pada 2025 dan 2026. Sertifikat tersebut berlaku hingga 2027.
Selain lolos audit Green Key, hotel meraih Gold Winner kategori Sustainable Hotel Bintang 4 dalam Wonderful Indonesia Awards 2025. Menurut Operation Manager Novotel Suites Yogyakarta Malioboro, Pelagia Puspa Agrippina, data yang disiapkan untuk sertifikasi Green Key turut digunakan dalam penilaian penghargaan tersebut.

Agrippina mengatakan penerapan standar keberlanjutan memiliki tantangan tersendiri karena hotel berada di tengah kota dengan area hijau yang terbatas.
“Hotel kita ini adalah hotel di tengah kota di mana area hijaunya kita amat sangat terbatas,” ujarnya.
Dalam pengelolaan sampah makanan, tim dapur menimbang sampah basah setiap hari dan mencatat jumlahnya setiap bulan melalui platform pelaporan Accor, Gaya 2.0. Sampah tersebut diambil oleh vendor HBM untuk diolah menggunakan maggot menjadi pupuk. Sebagian pupuk dijual, sedangkan sisanya digunakan untuk kebun urban farming hotel yang ditanami cabai dan terong.
Pengurangan sampah plastik dilakukan dengan mengganti botol minum di kamar menjadi botol kaca, menggunakan sedotan kertas, serta menyajikan minuman di ruang rapat dalam wadah kaca. Hotel juga bekerja sama dengan mitra untuk membuat tempat tisu dari plastik daur ulang.

Meski demikian, sampah plastik masih menjadi tantangan karena sebagian tamu membawa botol minuman dari luar hotel. Untuk mengatasinya, hotel menyediakan tempat pengumpulan tutup botol di setiap lantai kamar dan mengedukasi tamu tentang pengurangan sampah plastik.
“Kita nggak bisa melarang tamu untuk membawa ya. Nah, jadi tapi kita bisa mengedukasi mereka,” kata Agrippina.
Karyawan juga mengumpulkan sampah plastik jenis HDPE dari rumah, seperti botol produk perawatan kulit. Sampah tersebut ditimbang setiap Jumat, dengan jumlah terkumpul sekitar 5–10 kilogram per bulan.
Selain mengelola limbah, hotel menggunakan kembali air untuk menyiram tanaman. Penggunaan air, listrik, dan gas juga dipantau melalui platform Gaya 2.0 milik Accor.

Efisiensi energi dilakukan melalui penggunaan lampu LED, sensor lampu di sejumlah toilet umum, serta peralatan berteknologi inverter. Agrippina menyebut konsumsi energi hotel pada 2026 turun sekitar 1–2 persen dibandingkan 2025.
Hotel juga membentuk tim keberlanjutan yang bertemu setiap bulan untuk menyusun rencana aksi.
Agrippina mengatakan perhatian tamu terhadap praktik keberlanjutan juga mulai meningkat. Sejumlah tamu, menurut dia, menanyakan langkah yang dilakukan hotel untuk menerapkan prinsip tersebut.
“Kita pun juga banyak permintaan dari tamu yang menanyakan apakah hotel kamu telah menerapkan sustainability, kalaupun iya seperti apa,” ungkapnya.