Skip to content

Seminar Pra Pekan Doa Sedunia di Jogja Bahas Keseimbangan Hidup & Mental Health

Penulis
3 min read
Copied!
Seminar Pra Pekan Doa Sedunia di Jogja Bahas Keseimbangan Hidup & Mental Health
Psikolog Henrietta Puji Dwi Astuti Dian Sabatti saat memaparkan pentingnya menjaga keseimbangan diri dan kesehatan mental dalam Seminar Pra Pekan Doa Sedunia (PDS) 2027 di Gedung GKJ Gondokusuman, Yogyakarta, Jumat (16/10). Foto: Pandangan Jogja

Pentingnya menjaga keseimbangan hidup, kesehatan mental, dan kepedulian terhadap diri sendiri menjadi pembahasan dalam Seminar Pra Pekan Doa Sedunia (PDS) 2027 di Gedung GKJ Gondokusuman, Yogyakarta, Jumat (16/10). 

Seminar bertajuk “Sayangi Diri Sebelum Berbagi” ini mengangkat persoalan kesibukan membantu orang lain yang terkadang membuat kebutuhan diri sendiri dan keluarga kurang diperhatikan.

Psikolog Henrietta Puji Dwi Astuti Dian Sabatti mengatakan, keterlibatan dalam berbagai kegiatan sosial dan pelayanan dapat menjadi kesempatan untuk belajar melalui perjumpaan dengan banyak orang. 

Moderator Romo Dr. Martinus Joko Lelono, Pr. dan salah satu pembicara dalam sesi Seminar Pra Pekan Doa Sedunia 2027 bertajuk “Sayangi Diri Sebelum Berbagi” di GKJ Gondokusuman, Yogyakarta, Jumat (16/10). Foto: Pandangan Jogja

Namun, kesibukan tersebut perlu diimbangi dengan kemampuan mengatur waktu, beristirahat, dan memperhatikan kondisi diri sendiri. 

“Jangan lupa bahwa kita itu juga butuh istirahat. Jangan lupa kita itu butuh waktu untuk tenang,” kata Henrietta dalam seminar tersebut.

Persoalan membagi waktu juga dirasakan Frater Norbertus Alexandro dari Paroki Santo Petrus dan Paulus Babadan. Sebagai mahasiswa yang turut aktif dalam kegiatan keagamaan, ia terkadang menghadapi kebimbangan ketika harus menentukan prioritas antara tugas kuliah dan pelayanan. 

“Di situ kadang saya merasa bimbang yang mana harus saya dulukan,” ujarnya.

Jemaat dan umat memenuhi Gedung GKJ Gondokusuman Yogyakarta untuk mengikuti Seminar Pra Pekan Doa Sedunia (PDS) 2027, Jumat (16/10). Foto: Pandangan Jogja

Melalui seminar tersebut, Norbertus mengaku mendapat pembelajaran untuk memilah pekerjaan berdasarkan tingkat kepentingan dan urgensinya. Ia belajar membedakan pekerjaan yang harus segera diselesaikan dengan kegiatan yang masih bisa ditunda.

Ketua Pelaksana Panitia PDS 2027, Joko Pamungkas, mengatakan kepedulian terhadap orang lain juga perlu berjalan seiring dengan tanggung jawab terhadap keluarga. 

Menurutnya, kesibukan dalam pelayanan tidak boleh membuat seseorang mengabaikan pasangan, anak, maupun kebutuhan dirinya sendiri. “Jangan sampai mereka terbengkalai oleh karena pelayanan kita yang terlalu aktif di dalam gereja,” kata Joko kepada Pandangan Jogja, Jumat (16/10).

Pengalaman lain disampaikan Monica Ediwina Ruth, jemaat Paroki Pugeran yang mewakili WKRI DPC Bantul. Ia aktif dalam kegiatan pelayanan di rumah sakit, panti asuhan, hingga lapas dan rutan, tetapi tetap berupaya memberikan perhatian kepada keluarga dan dirinya sendiri.

Ketua Pelaksana Panitia PDS 2027, Joko Pamungkas, saat memberikan keterangan terkait pentingnya keseimbangan antara pelayanan gereja dan perhatian terhadap keluarga dalam seminar di GKJ Gondokusuman, Yogyakarta, Jumat (16/10). Foto: Pandangan Jogja

“Saya merasa bahwa diri saya dicintai dan saya harus lebih mencintai diri saya supaya orang juga merasakan semangat yang saya miliki,” ujarnya.

Seminar yang digelar BKSADK DIY bersama Kevikepan Yogyakarta Timur tersebut mengangkat tema “Harmonisasi Kesehatan Tubuh, Jiwa, dan Roh dalam Pelayanan Diakonia”. 

Pendeta Seno Adhi Noegroho menjelaskan, pembahasan seminar mengacu pada 1 Tesalonika 5:23 yang memuat doa agar roh, jiwa, dan tubuh terpelihara sempurna. “Karena kita dari dalam kita sudah oke, tinggal kita bergerak keluar,” ujarnya.

Panitia mengundang sekitar 500 jemaat dari berbagai denominasi Kristen dan umat Katolik untuk mengikuti seminar pembuka rangkaian PDS 2027 tersebut. Seno menjelaskan, tema besar PDS 2027 bersumber dari Lukas 12:32 dengan pesan “Janganlah takut, hai kamu kawanan kecil”, yang mengingatkan umat untuk tidak takut menghadapi situasi sulit.

Jemaat dan umat memenuhi Gedung GKJ Gondokusuman Yogyakarta untuk mengikuti Seminar Pra Pekan Doa Sedunia (PDS) 2027, Jumat (16/10). Foto: Pandangan Jogja

Rangkaian PDS 2027 selanjutnya dijadwalkan berlangsung pada November 2026 melalui sarasehan dan parade budaya lintas agama, disertai panggung pertunjukan dan video mapping. 

Puncak doa bersama akan digelar pada 20 Januari 2027, kemudian dilanjutkan bakti sosial pada Februari. Joko berharap kegiatan budaya tersebut dapat menjadi ruang perjumpaan masyarakat lintas agama. “Karena dengan budaya itu semua kita tidak membedakan agama apa pun,” katanya.

Tim Editor
Writer: Pandangan Jogja
Reporter: Resti Damayanti
Editor: Widi RH Pradana