Satu Dekade Mendampingi Musisi Yogyakarta, Sarah Curro Melihat Peserta Paling Emosional Saat Memainkan Karya Komposer Indonesia

Selama 10 tahun mendampingi peserta Youth Music Camp dalam kolaborasi Melbourne Symphony Orchestra (MSO) dan Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sarah Curro, pelatih sekaligus konduktor dari Melbourne Symphony Orchestra (MSO), menyaksikan perubahan cara generasi muda memaknai musik orkestra. Baginya, program tersebut bukan sekadar ruang belajar teknik bermusik, tetapi juga menjadi tempat peserta menemukan kembali kedekatan dengan budaya mereka sendiri.
Menurut Sarah, perubahan tersebut paling terlihat ketika peserta memainkan komposisi karya komposer Indonesia. Mereka menunjukkan keterikatan emosional yang berbeda dibandingkan saat membawakan repertoar klasik Barat seperti karya Tchaikovsky maupun Beethoven.

“Ketika kami berkolaborasi dengan komposer-komposer Indonesia selama bertahun-tahun, para siswa benar-benar menjadi emosional saat memainkan musik mereka sendiri. Mereka menyukai Tchaikovsky, mereka menyukai Beethoven, mereka menyukai musik bergaya Barat. Tapi ketika mereka memainkan musik mereka sendiri, di situlah makna sesungguhnya muncul,” katanya.
Baginya, pengalaman selama satu dekade itu menunjukkan bahwa musik orkestra dapat menjadi medium bagi generasi muda untuk mengekspresikan identitas budaya mereka, meski selama ini lebih banyak diasosiasikan dengan tradisi musik Eropa. Melalui program tersebut, peserta tidak hanya mengasah kemampuan bermusik, tetapi juga semakin memahami akar budaya yang mereka miliki.
Pengalaman Sarah selama mengikuti program kolaborasi tersebut juga bertambah pada penyelenggaraan tahun ini. Selain mendampingi peserta Youth Music Camp, ia dipercaya menjadi konduktor karya Dharma dalam konser kolaborasi yang memadukan orkestra dengan seni wayang.

“Ini pertama kalinya saya tampil berkolaborasi dengan wayang sama sekali. Ini benar-benar luar biasa,” ujarnya.
Kolaborasi lintas budaya tersebut tidak hanya memperkaya pengalaman para musisi dari Australia, tetapi juga membuka ruang untuk saling memahami budaya. Ia menilai proses tersebut menjadi pengalaman yang sulit dijelaskan kepada rekan-rekannya di Australia karena bukan sekadar mempertemukan dua tradisi seni, melainkan juga menghadirkan pemahaman yang lebih dalam terhadap budaya Indonesia.
“Kolaborasi ini membantu kami, orang-orang Barat, untuk memahami budaya Indonesia sedikit lebih dalam. Tapi ini juga membantu masyarakat Indonesia untuk terhubung kembali dengan warisan leluhur mereka,” katanya.

Menurutnya, kisah Mahabharata yang diangkat dalam konser tahun ini memiliki kedekatan dengan berbagai cerita klasik yang dikenal di Eropa, meski berasal dari peradaban yang jauh lebih tua. Hal tersebut menunjukkan bahwa nilai-nilai budaya dapat menjadi jembatan yang menghubungkan masyarakat dari latar belakang berbeda.
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan DIY Dian Lakshmi Pratiwi mengatakan rangkaian program tahun ini, mulai dari Youth Music Camp, Arts Management Workshop, hingga Music Composition Workshop, dirancang untuk membangun saling pengertian antara budaya Yogyakarta dan Victoria, Australia.
“Nilai-nilai budaya Yogyakarta yang menyangkut keselarasan dan keharmonisan, sesuai konsep Memayu Hayuning Bawana, mampu ditangkap dan kemudian diterjemahkan menjadi nilai-nilai yang tumbuh di Australia, khususnya di Victoria,” katanya.