Skip to content

A Decade: A Deeper Understanding, Kolaborasi DIY dan Melbourne Symphony Orchestra Tahun Ini Hadirkan Wayang

Pandangan Jogja
Pandangan Jogja
4 min read
Copied!
melbourne symphony orchestra youth music camp di griya persada hotel & convention
Peserta Melbourne Symphony Orchestra bersama peserta Youth Music Camp mengikuti latihan menjelang konser kolaborasi di Griya Persada Hotel & Convention, Kaliurang, Sleman, Rabu (157). Foto Dzaky Fauzi/Pandangan Jogja

Setelah tahun lalu memadukan orkestra dengan gejog lesung, kolaborasi Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) melalui Dinas Kebudayaan DIY dan Melbourne Symphony Orchestra (MSO) kembali menghadirkan pendekatan baru. Memasuki satu dekade kerja sama, pertunjukan tahun ini akan mempertemukan musik orkestra dengan seni wayang dalam sebuah karya kolaboratif yang mengangkat kisah Mahabharata.

Kolaborasi tersebut akan dipentaskan dalam konser bertema A Decade: A Deeper Understanding di Auditorium Universitas Sanata Dharma, Kamis (16/7). Konser menjadi puncak rangkaian program Melbourne Symphony Orchestra di Yogyakarta sekaligus penanda sepuluh tahun kemitraan antara DIY dan Negara Bagian Victoria, Australia.

Komposer Yogyakarta Vishnu Satyagraha mengatakan, keterlibatan wayang menjadi pembeda utama dibandingkan kolaborasi tahun sebelumnya.

“Tahun lalu kita mencoba berkolaborasi dengan gejog lesung yang pada dasarnya merupakan instrumen musik. Kali ini kita melangkah lebih jauh lagi dengan berkolaborasi dengan pertunjukan wayang,” kata Vishnu saat ditemui di sela latihan di Griya Persada Convention Hotel & Resort, Rabu (15/7).

Menurut Vishnu, konser akan membawa penonton mengikuti perjalanan kisah Mahabharata, mulai dari babak perjudian, pengasingan, peperangan, hingga kehidupan setelah perang. Cerita tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa musik melalui berbagai elemen komposisi.

“Itulah yang dilakukan komposer untuk menerjemahkan banyak rasa ke dalam musik. Kita punya banyak elemen, ada melodi, ada harmoni, ada ritmis di sana. Jauh lebih penting daripada itu adalah mood atau perasaan yang dimunculkan,” ujarnya.

vishnu satyagraha dan thomas green
Komposer Vishnu Satyagraha dan komposer Thomas Green di sela sesi latihan konser kolaborasi di Griya Persada Hotel & Convention, Kaliurang, Sleman, Rabu (15/7). Foto: Dzaky Fauzi/Pandangan Jogja

Proses penciptaan karya dilakukan secara kolaboratif bersama komposer Melbourne Symphony Orchestra, Thomas Green. Vishnu menyebut keduanya saling mengembangkan gagasan sehingga lahir komposisi yang memadukan perspektif musikal dari dua latar budaya.

“Saya mencoba untuk kolaborasi, jadi ide saya dikembangkan oleh beliau dan ide beliau dikembangkan oleh saya. Beliau sangat pandai, sangat rendah hati, sangat kolaboratif, sangat fleksibel, sangat adaptif sehingga kerja sama ini menjadi sangat baik,” katanya.

Selain dua komposer, proses kreatif juga melibatkan dalang Fani Rickyansah. Vishnu mengakui kolaborasi lintas disiplin tersebut menjadi tantangan tersendiri, namun justru memperkaya pertunjukan.

dalang fani rickyansah
Dalang Fani Rickyansah memainkan wayang saat latihan kolaborasi bersama Melbourne Symphony Orchestra di Griya Persada Hotel & Convention, Kaliurang, Sleman, Rabu (15/7). Foto: Dzaky Fauzi/Pandangan Jogja

“Tantangan terbesarnya karena tahun ini kita mencoba berkolaborasi dengan banyak pihak. Yang pertama dengan dalang Mas Fani Rickyansah, kemudian bertemu dengan Thomas Green yang menjadi komposer kolaboratif dalam karya ini,” ujarnya.

Sementara itu, Thomas Green mengaku menggarap komposisi yang berakar pada budaya Jawa menjadi pengalaman baru baginya. Meski tidak mudah, ia menilai proses tersebut berlangsung alami berkat kerja sama dengan Vishnu.

“Yes, it’s challenging. Frankly, I find it very difficult to create music on Javanese themes. However, because I collaborated with Vishnu Satyagraha, I was invited into the process, and that actually made it easier. The music came naturally,” kata Thomas.

Ia menilai komposisi Vishnu memiliki tema yang kuat sehingga memudahkan proses pengembangan karya bersama.

“Vishnu’s compositions are very clear statements, clear themes, and very honest,” ujarnya.

para pemain melbourne symphony orchestra
Para pemain Melbourne Symphony Orchestra menjalani sesi latihan menjelang konser kolaborasi di Griya Persada Hotel & Convention, Kaliurang, Sleman, Rabu (157). Foto Dzaky Fauzi/Pandangan Jogja

Menurut Thomas, konser kali ini juga berbeda dari pertunjukan orkestra pada umumnya karena memadukan instrumen orkestra Barat dengan unsur-unsur tradisi Jawa, termasuk pertunjukan wayang.

“What’s different is that we combine Javanese themes with traditional Javanese performances. There are also shadow puppets, which are certainly traditional in Javanese culture. This makes it very special, very different, and very new and innovative,” katanya.

Bagi Thomas, kolaborasi tersebut menjadi kesempatan untuk belajar langsung mengenai budaya Indonesia melalui proses berkarya bersama.

“I’ve never been to Yogyakarta, so I’m really excited. As a contemporary composer, I’m interested in learning about music from other parts of the world, and the best way to do that is to meet people there and make music together. This is an amazing opportunity for me,” ujarnya.

Kepala Dinas Kebudayaan DIY Dian Lakshmi Pratiwi mengatakan, tema A Decade: A Deeper Understanding tidak hanya menandai perjalanan sepuluh tahun kerja sama, tetapi juga mencerminkan semakin dalamnya pemahaman budaya yang dibangun kedua pihak.

kepala dinas kebudayaan (kundha kabudayan), dian lakshmi pratiwi
Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta, Dian Lakshmi Pratiwi, menghadiri sesi latihan Melbourne Symphony Orchestra dan Youth Music Camp di Griya Persada Hotel & Convention, Kaliurang, Sleman, Rabu (157). Foto Dzaky Fauzi/Pandangan Jogja

Menurut Dian, melalui rangkaian Youth Music Camp, Arts Management Workshop, Music Composition Workshop, hingga konser kolaborasi, para peserta tidak hanya memperoleh peningkatan kapasitas dalam mengelola pertunjukan seni bertaraf internasional, tetapi juga ruang untuk saling memahami nilai-nilai budaya yang berkembang di Yogyakarta dan Victoria.

“Dari Arts Management Workshop ini kita berharap ada saling pengertian antara dua kultur dengan latar belakang yang berbeda. Nilai-nilai budaya Yogyakarta yang menyangkut keselarasan dan keharmonisan sesuai konsep Memayu Hayuning Bawana mampu ditangkap, kemudian diterjemahkan menjadi nilai-nilai yang tumbuh di Australia, khususnya di Victoria,” kata Dian.

Konser kolaborasi pada Kamis (16/7) sekaligus menjadi penutup rangkaian program Melbourne Symphony Orchestra di Yogyakarta yang berlangsung pada 12–16 Juli 2026 dan menjadi pembuka rangkaian Bulan Warisan Dunia DIY.

Tim Editor
Writer: Pandangan Jogja
Reporter: Arif UT
Editor: Arif UT