Film Anak tentang Hutan Papua Raih Penghargaan, Akan Diputar di Belgia dan Luksemburg

Film anak Indonesia “Teman Tegar: Maira – Whisper from Papua” meraih penghargaan Global Peace and Friendship di Universal Kids Film Festival 2026. Penghargaan untuk film karya sutradara Anggi Frisca tersebut diumumkan pada 12 Oktober 2026.
Film produksi PT Aksa Bumi Langit ini mengangkat persahabatan Tegar dan Maira serta hubungan masyarakat adat dengan hutan Papua. Melalui pengalaman tokoh-tokoh anak, film tersebut bercerita tentang hutan sebagai ruang hidup yang berkaitan dengan penghidupan, pengetahuan lokal, dan identitas budaya.
Anggi mengatakan persoalan lingkungan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat yang bergantung pada hutan. Menurutnya, kerusakan hutan turut mengancam pengetahuan dan masa depan anak-anak yang tumbuh di sekitarnya.
“‘Hutan adalah Ibu’ menjadi napas penting dalam film ini. Ada hubungan merawat dan dirawat di sana. Ketika hutan rusak, yang terancam juga kehidupan, pengetahuan dan masa depan anak-anak yang tumbuh bersamanya,” kata Anggi dalam keterangan tertulis.

Melalui karakter Maira, film ini menggambarkan bagaimana anak belajar mengenali alam dari keluarga, lingkungan, dan pengalaman sehari-hari. Pengetahuan tersebut mencakup cara memanfaatkan sumber daya sekaligus memahami batas pemanfaatannya.
Anggi menekankan bahwa pengetahuan lokal tidak dapat disamaratakan karena setiap komunitas memiliki pengalaman berbeda. Menurutnya, penghormatan terhadap masyarakat adat juga mencakup kesediaan mendengarkan dan menghormati pilihan mereka dalam menghadapi perubahan.
Ia juga ingin menghadirkan Papua melalui pengalaman masyarakat yang tinggal di dalamnya. Maira digambarkan sebagai anak yang memiliki rumah, hubungan dengan orang-orang di sekitarnya, pengetahuan, serta keinginannya sendiri.
“Ukurannya bagi saya adalah apakah setelah menonton, orang juga mengingat suara dan perjuangan Maira, selain mengingat pemandangannya,” ujar Anggi.

Menurut Anggi, film tersebut tidak mewakili seluruh keragaman masyarakat dan pengalaman di Papua. Ia menyebut mendengarkan masyarakat yang kisah serta ruang hidupnya ditampilkan sebagai bagian dari tanggung jawab pembuat film.
Untuk mengenalkan persoalan lingkungan kepada penonton muda, Anggi menggunakan pengalaman yang dekat dengan dunia anak, seperti persahabatan, kehilangan, rasa takut, dan keinginan melindungi sesuatu yang disayangi.
“Film tentu tidak dapat menjelaskan seluruh sejarah dan tekanan yang dihadapi masyarakat adat. Tetapi film bisa menumbuhkan empati dan pertanyaan: siapa yang tinggal di sana, apa yang terjadi pada mereka, dan apakah suara mereka didengar?” kata Anggi.
Setelah memperoleh penghargaan tersebut, Teman Tegar: Maira – Whisper from Papua dijadwalkan menjalani pemutaran perdana Eropa di Filem’On International Film Festival for Young Audiences, Belgia. Berdasarkan keterangan rumah produksi, film ini juga terpilih dalam kategori CIFEJ Award untuk film panjang.

Rilis tersebut mencantumkan jadwal penayangan pada 3 November 2026 serta lokasi pemutaran di Ghent dan Bozar, Brussel. Film Maira selanjutnya dijadwalkan diputar di Utopia Cinema, Luksemburg, pada 7 November 2026.
Dalam rangkaian perjalanan yang sama, film Tegar dijadwalkan diputar pada 2 November 2026 di Cinema Flagey, Brussel, melalui Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI). Pemutaran ini merupakan agenda untuk film yang berbeda dari Teman Tegar: Maira – Whisper from Papua.
Anggi berharap pemutaran filmnya dapat membuka diskusi di sekolah, keluarga, dan komunitas mengenai lingkungan serta kehidupan masyarakat adat. Ia juga berharap semakin banyak kesempatan bagi anak-anak Papua untuk menyampaikan pengalaman dan cita-cita mereka.
“Masa depan mereka perlu dibicarakan bersama mereka,” katanya.