Cegah Keracunan MBG, Siswa SMP di Sleman Ciptakan Alat Pendeteksi Makanan Basi

Dua siswa kelas IX SMP Negeri 1 Turi, Sleman, menciptakan alat pendeteksi makanan basi yang dapat digunakan untuk membantu mengecek kualitas makanan, termasuk pada program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Alat tersebut mampu menampilkan hasil analisis dalam waktu sekitar lima detik dan saat ini sedang dalam proses pengajuan hak paten.
Kedua siswa tersebut adalah Abyan Syahlefi dan Pradipta Widhi Nugroho. Abyan mengatakan ide membuat alat itu muncul setelah melihat maraknya pemberitaan mengenai kasus dugaan keracunan makanan yang melibatkan pelajar. Prototipe alat tersebut dibuat dengan biaya sekitar Rp500 ribu.

“Karena kita melihat dari media sosial banyak kasus keracunan MBG sehingga kami membuat ini,” kata Abyan saat ditemui Pandangan Jogja di SMP Negeri 1 Turi, Sleman, Selasa (28/7).
Alat tersebut memanfaatkan sejumlah komponen, seperti sensor, layar, baterai, dan Arduino. Sistem bekerja dengan mendeteksi aroma serta suhu udara di sekitar makanan, kemudian mengolah data dan menampilkan hasil analisis dalam waktu sekitar lima detik.

Abyan menjelaskan alat itu mulai dikembangkan sejak Maret 2026. Selama proses pengembangan, mereka beberapa kali mengalami kendala, termasuk kesalahan saat merangkai komponen hingga menyebabkan rangkaian sempat meledak.
“Kita sempat salah merangkai, sempat meledak, itu waktu awal rilis. Kita minta bantuan ke Bu Anik selaku pembimbing kami, gak kapok,” ujarnya.
Pradipta berharap inovasi tersebut dapat terus dikembangkan sehingga manfaatnya semakin luas.
“Harapannya supaya alat ini bisa dikembangkan lagi dan bisa menurunkan angka keracunan MBG di Indonesia,” kata Pradipta.
Sedang Diajukan Hak Paten
Guru pembimbing kedua siswa tersebut, Anik Marwati, mengatakan sekolah saat ini tengah mengurus pengajuan hak paten untuk melindungi karya siswanya.

Menurutnya, hasil inovasi siswa tidak cukup hanya dipamerkan dalam berbagai perlombaan, tetapi juga perlu memperoleh pengakuan melalui hak paten sebagai bentuk perlindungan terhadap karya mereka.
“Ini penghargaan, harus diberikan pengakuan supaya bisa diakui. Ini sedang dalam proses pengumpulan administrasi,” kata Anik.
Selain alat pendeteksi makanan basi, SMP Negeri 1 Turi juga telah menghasilkan sejumlah inovasi lain, di antaranya timbangan unggas digital, kursi roda elektrik dengan sensor penghalang, sensor amonia untuk toilet, dan alat penyemprot otomatis.