Skip to content

Cegah Keracunan MBG, Siswa SMP di Sleman Ciptakan Alat Pendeteksi Makanan Basi

Penulis
2 min read
Copied!
Guru pembimbing, Anik Marwati, bersama Kedua Siswa-nya, Abyan Syahlefi dan Pradipta Widhi Nugroho
Guru pembimbing, Anik Marwati, bersama Kedua Siswa-nya, Abyan Syahlefi dan Pradipta Widhi Nugroho. Foto: Pandangan Jogja

Dua siswa kelas IX SMP Negeri 1 Turi, Sleman, menciptakan alat pendeteksi makanan basi yang dapat digunakan untuk membantu mengecek kualitas makanan, termasuk pada program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Alat tersebut mampu menampilkan hasil analisis dalam waktu sekitar lima detik dan saat ini sedang dalam proses pengajuan hak paten.

Kedua siswa tersebut adalah Abyan Syahlefi dan Pradipta Widhi Nugroho. Abyan mengatakan ide membuat alat itu muncul setelah melihat maraknya pemberitaan mengenai kasus dugaan keracunan makanan yang melibatkan pelajar. Prototipe alat tersebut dibuat dengan biaya sekitar Rp500 ribu.

Dua Siswa SMP Negeri 1 Turi, Abyan Syahlefi dan Pradipta Widhi Nugroho Sleman, Pencipta Alat Pendeteksi Makanan Basi
Dua Siswa SMP Negeri 1 Turi, Abyan Syahlefi dan Pradipta Widhi Nugroho, Pencipta Alat Pendeteksi Makanan Basi. Foto: Pandangan Jogja

“Karena kita melihat dari media sosial banyak kasus keracunan MBG sehingga kami membuat ini,” kata Abyan saat ditemui Pandangan Jogja di SMP Negeri 1 Turi, Sleman, Selasa (28/7).

Alat tersebut memanfaatkan sejumlah komponen, seperti sensor, layar, baterai, dan Arduino. Sistem bekerja dengan mendeteksi aroma serta suhu udara di sekitar makanan, kemudian mengolah data dan menampilkan hasil analisis dalam waktu sekitar lima detik.

Alat Pendeteksi Makanan Basi Ciptaan Abyan Syahlefi dan Pradipta Widhi Nugroho
Alat Pendeteksi Makanan Basi Ciptaan Abyan Syahlefi dan Pradipta Widhi Nugroho. Foto: Pandangan Jogja

Abyan menjelaskan alat itu mulai dikembangkan sejak Maret 2026. Selama proses pengembangan, mereka beberapa kali mengalami kendala, termasuk kesalahan saat merangkai komponen hingga menyebabkan rangkaian sempat meledak.

“Kita sempat salah merangkai, sempat meledak, itu waktu awal rilis. Kita minta bantuan ke Bu Anik selaku pembimbing kami, gak kapok,” ujarnya.

Pradipta berharap inovasi tersebut dapat terus dikembangkan sehingga manfaatnya semakin luas.

“Harapannya supaya alat ini bisa dikembangkan lagi dan bisa menurunkan angka keracunan MBG di Indonesia,” kata Pradipta.

Sedang Diajukan Hak Paten
Guru pembimbing kedua siswa tersebut, Anik Marwati, mengatakan sekolah saat ini tengah mengurus pengajuan hak paten untuk melindungi karya siswanya.

Guru pembimbing, Anik Marwati
Guru Pembimbing, Anik Marwati. Foto: Pandangan Jogja

Menurutnya, hasil inovasi siswa tidak cukup hanya dipamerkan dalam berbagai perlombaan, tetapi juga perlu memperoleh pengakuan melalui hak paten sebagai bentuk perlindungan terhadap karya mereka.

“Ini penghargaan, harus diberikan pengakuan supaya bisa diakui. Ini sedang dalam proses pengumpulan administrasi,” kata Anik.

Selain alat pendeteksi makanan basi, SMP Negeri 1 Turi juga telah menghasilkan sejumlah inovasi lain, di antaranya timbangan unggas digital, kursi roda elektrik dengan sensor penghalang, sensor amonia untuk toilet, dan alat penyemprot otomatis.

Tim Editor
Writer: Pandangan Jogja
Reporter: Resti Damayanti
Editor: Widi RH Pradana