BGN Uji Coba MBG Prasmanan di 2 Sekolah di DIY, Diikuti 106 Siswa

Badan Gizi Nasional (BGN) menguji coba penyajian Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan metode prasmanan di dua sekolah di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Sebanyak 106 siswa mengikuti pilot project yang mulai dilaksanakan pada Senin (5/10/2026).
Kepala Regional BGN DIY, Wirandita Gagat Widyatmoko, mengatakan uji coba dilakukan di SDN Soprayan, Turi, Sleman, dan SD Muhammadiyah Bantar, Kulon Progo.
“Di wilayah DIY, kegiatan dilaksanakan di SPPG Sleman Turi Bangunkerto 2 dengan lokasi SDN Soprayan dan SPPG Polda DIY dengan lokasi SD Muhammadiyah Bantar. Kegiatan tersebut melibatkan total 106 penerima, terdiri dari 59 siswa SD Soprayan Turi kelas 4-6 dan 47 siswa SD Muhammadiyah Bantar kelas 5-6,” kata Gagat saat dihubungi Pandangan Jogja, Selasa (6/10).
Dalam metode ini, makanan tetap dimasak di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sebelum dibawa ke sekolah. Namun, berbeda dari mekanisme MBG yang menggunakan makanan dalam wadah atau ompreng, makanan kemudian disajikan secara prasmanan.
BGN tetap menyediakan food tray yang telah disterilkan untuk digunakan para siswa saat mengambil makanan.
“Ketika sudah di sekolah, SPPG tetap menyediakan foodtray yang sudah steril untuk digunakan penerima manfaat,” ujar Gagat.
Uji coba MBG prasmanan di DIY dijadwalkan berlangsung selama hampir dua pekan, yakni mulai 5 hingga 16 Oktober 2026. Program tersebut merupakan bagian dari pilot project BGN yang dilaksanakan di sejumlah titik SPPG di Indonesia.
Menurut Gagat, uji coba tidak hanya digunakan untuk melihat mekanisme penyajian makanan secara prasmanan. BGN juga mengevaluasi keamanan pangan dan higiene, kenyamanan pelayanan, kepuasan penerima manfaat, serta jumlah makanan yang tersisa atau food waste.
Pada pelaksanaan awal di dua sekolah tersebut, total sisa makanan tercatat sebanyak 3,3 kilogram. Rinciannya, 1,6 kilogram berasal dari SDN Soprayan dan 1,7 kilogram dari SD Muhammadiyah Bantar.
“BGN akan menjadikan hasil pilot project ini sebagai bahan evaluasi dan penyempurnaan model layanan MBG prasmanan, alur pelayanan, higiene, kenyamanan, kepuasan penerima manfaat, serta pengendalian food waste,” kata Gagat.