Akademisi UGM Dipanggil Prabowo Bahas Gambut, Usulkan Tim Pakar Lintas Disiplin

Akademisi Universitas Gadjah Mada (UGM) menjadi bagian dari sejumlah pakar yang dipanggil untuk mengikuti pembahasan mengenai pengelolaan gambut dan mangrove bersama Presiden Prabowo Subianto, Kamis (24/9). Mereka adalah Guru Besar Fakultas Pertanian, Prof. Azwar Ma’as, dan Dosen Teknik Geodesi, Bambang Kun Cahyono.
Menurut Azwar, pertemuan tersebut membahas sejumlah persoalan terkait pencegahan dan penanganan kebakaran lahan gambut, termasuk kebutuhan air, pengadaan pompa, peran masyarakat desa, hingga rencana pembentukan badan yang secara khusus menangani gambut dan mangrove.
Azwar mengatakan pemanggilan para akademisi tersebut berlangsung secara mendadak. Ia mengaku sebelumnya tidak mengetahui secara pasti agenda yang akan dihadiri ketika berangkat ke Jakarta.
“Ada yang berkontak ke saya ‘Prof, nanti jam 3 jam 4 itu dipanggil menteri,” kata Azwar ditemui awak media di kantornya, Sabtu (26/9).
Ia menjelaskan, sebelum pertemuan utama dengan Presiden, sejumlah akademisi terlebih dahulu mengikuti pembahasan di tingkat kementerian. Dalam forum tersebut, para peserta menyampaikan berbagai usulan mengenai penanganan gambut, termasuk pendekatan pencegahan kebakaran dan penyediaan infrastruktur air di desa-desa rawan kebakaran.
Azwar mengusulkan agar badan yang nantinya dibentuk tidak hanya diisi oleh ahli kebakaran atau lingkungan tetapi juga melibatkan pakar teknik sipil, sosial, ekonomi, budaya, hingga ahli kebakaran. Menurut Azwar, komposisi tersebut diperlukan agar kebijakan pengelolaan gambut tidak hanya bertumpu pada satu pendekatan.
Selain itu, ia juga mengusulkan agar sejumlah peraturan pemerintah ditinjau ulang seperti Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2014 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Gambut.
“Yang saya minta itu adalah pakar yang memahami masalah pengetahuan. Engineering, Civil Engineering basah. Karena Civil Engineering itu ada dua, basah dan kering. Kemudian ada lagi yang misalnya sosial, ekonomi, budaya dan yang terakhir itu yang ahli gambutnya,” kata Azwar.
Diakuinya, struktur dan komposisi badan baru itu belum sepenuhnya dipastikan. Ia menyebut masih menunggu pembahasan lebih lanjut mengenai bentuk kelembagaan, siapa yang akan menjadi inisiator, serta bagaimana hubungan lembaga tersebut dengan pemerintah pusat dan daerah.