Skip to content

Bagaimana Perajin Perak Jogja Hari Ini Menerjemahkan Ulang Logam Tradisi Leluhur lewat Bahasa Baru

Penulis
4 min read
Copied!
Bagaimana Perajin Perak Jogja Hari Ini Menerjemahkan Ulang Logam Tradisi Leluhur lewat Bahasa Baru
Pemilik Kemayu Jewellery, Lupita. Foto: Pandangan Jogja

Di Kotagede dan sudut-sudut Yogyakarta, perak tidak lagi hadir sebatas perhiasan dengan ukiran klasik di etalase toko suvenir. Hari ini, perajin perak generasi baru terus berkreasi dengan logam mulia yang sudah menjadi bahan baku kerajinan sejak berabad-abad lalu, menghasilkan ciptaan-ciptaan dengan ciri khas masing-masing yang mungkin tak terbayangkan oleh perajin di masa silam.

Seperti perhiasan perak yang ada di etalase Kemayu Jewellery di dekat kawasan Malioboro. Dari tampak depan toko dengan permainan warna cat hijau kebiruan dan aksen kayu coklat yang playful, kita mungkin sudah bisa menebak target pasar yang disasar.

“Memang yang paling banyak datang dan belanja di sini adalah rata-rata anak-anak mahasiswa,” kata perajin perak sekaligus pemilik Kemayu Jewellery, Lupita, kepada Pandangan Jogja September lalu.

Melihat koleksi di Kemayu Jewellery, perhiasan perak tampil dengan gaya sederhana. Lupita sengaja merancang perhiasan perak dengan ukuran dan gaya minimalis yang terjangkau bagi kantong mahasiswa dan anak muda. 

Suasana ruang workshop HS Silver Kotagede dengan perajin tradisional dan pengunjung yang sedang belajar membuat kerajinan
Suasana ruang workshop HS Silver Kotagede dengan perajin tradisional dan pengunjung yang sedang belajar membuat kerajinan. Foto: Pandangan Jogja

Dari segi motif, ia menerjemahkan ulang ornamen bunga yang biasa dijumpai pada perhiasan perak klasik menjadi versi yang lebih kontemporer. Ia juga mengeksplorasi bentuk-bentuk lain seperti flora dan fauna.

“Ini model terbaru kita juga dia terinspirasi dari biji kakao. Kita juga ada capung. Jadi tidak semua cuma bunga saja,” ujarnya. 

Menurut Lupita, tak hanya bentuk perhiasan perak yang berubah, tetapi juga sasaran penggunaannya. Perhiasan perak yang dulu dipasangkan dengan pakaian adat kini dipasarkan sebagai produk sehari-hari. 

Bertahan dengan Teknik Tradisional Filigri dan Tatah

Pemilik Borobudur Silver, Selly Sagita
Pemilik Borobudur Silver, Selly Sagita. Foto: Pandangan Jogja

Meskipun tampilan perhiasan perak terus berubah, proses pembuatannya di workshop tetap menggunakan teknik-teknik tradisional yang telah ada sejak lama, terutama filigri dan tatah.

Selly Sagita, pemilik Borobudur Silver yang sudah yang sudah 37 tahun menekuni kerajinan perak, menjelaskan filigri sebagai teknik membuat perhiasan dengan basis serat-serat kawat. Sementara itu, teknik tatah menggunakan bahan perak yang dijadikan plat tipis seperti kertas. 

Menurut Selly, filigri atau trap-trapan merupakan salah satu teknik tradisional yang primitif dan sudah digunakan sejak pertama kali manusia membuat perhiasan. 

“Khasnya Jogja tuh perak filigri, kalau bahasa lokalnya tuh perak trap-trapan. Bahannya harus dibikin jadi kawat dulu. Kalau bahannya itu dijadikan plat tipis kayak kertas, itu nanti bisa ditatah dengan teknik tatah,” jelasnya.

Seorang perajin perempuan merangkai kawat perak halus menggunakan teknik filigri di atas meja kerja
Seorang perajin perempuan merangkai kawat perak halus menggunakan teknik filigri di atas meja kerja. Foto: Pandangan Jogja

Antarina Putik Hadian, desainer sekaligus PIC Research & Development HS Silver, menyebut teknik filigri diwariskan turun-temurun dari satu generasi perajin perak ke generasi berikutnya. Menurutnya, kawat-kawat halus yang digunakan pada teknik ini selaras dengan karakter orang Jogja yang kalem.

“Perajin kita itu pintar, adaptif dengan desain. Mereka ngerti bahwa, ‘oh ini yang bakal menjadi permintaan,’ mereka akan menyiapkan seperti ini. Kalau bentuk itu bisa menyesuaikan zaman,” ujarnya.

Karena dikerjakan manual dengan tangan oleh perajin yang berbeda-beda, perhiasan yang dihasilkan tak seratus persen sama dan memiliki ciri khasnya masing-masing. Menurut Antarina, keunikan ini menjadi salah satu aspek yang dicari oleh konsumen. 

“Buatan tangan itu selalu punya apa ya, jiwa yang agak beda dengan mesin. Dan banyak banget kerajinan-kerajinan di Jogja, Jakarta maupun di Indonesia secara besar, itu yang tidak bisa diduplikasi seratus persen dengan mesin. Hasilnya akan sangat berbeda,” tuturnya.

Dari Trofi MotoGP hingga Bros Janggan “Gadis Kretek”

Pemilik SWEDA, Surya Aditya
Pemilik SWEDA, Surya Aditya. Foto: Pandangan Jogja

Dengan teknik dan keterampilan membentuk perak yang sama, produk akhir yang dihasilkan tak selalu berupa perhiasan. Di tangan para perajin, bentuknya bisa sekecil bros sampai sebesar piala balap dunia.

Surya Aditya, pemilik brand kerajinan perak SWEDA, telah empat tahun berturut-turut dipercaya membuat trofi untuk ajang balap motor internasional MotoGP di Mandalika. Kepercayaan itu diperoleh dari rekomendasi kawan-kawan Surya di Indonesian Kustom Kulture Festival (KUSTOMFEST), gelaran yang mempertemukan para penghobi kendaraan kustom.

Kendaraan dan kustom memang menjadi salah satu inti dari bisnis SWEDA. Lewat brand-nya itu, Surya membuat dan memasarkan produk berupa plat dan aksesori perak untuk mobil-mobil lowrider dan motor gede seperti Harley-Davidson. SWEDA juga beberapa kali mendapatkan permintaan kustom aksesori dari rapper dunia seperti Snoop Dogg hingga Machine Gun Kelly.

Menurut Surya, desain produk SWEDA banyak terinspirasi dari seni, musik, and subkultur anak muda Pesisir Barat Amerika Serikat (West Coast).

Deretan trofi ajang balap motor MotoGP Mandalika karya brand perak SWEDA berornamen modern dan tradisional
Deretan trofi ajang balap motor MotoGP Mandalika karya brand perak SWEDA berornamen modern dan tradisional. Foto: Pandangan Jogja

“Kita tetap mempertahankan teknik-teknik tradisional. Tapi di era yang serba modern ini, kita juga nggak bisa lepas dari perkembangan teknologi. Jadi kita juga udah ada penggunaan kayak desain 3D, terus nanti kita mock up, terus kita print 3D untuk prototype, untuk kita bikin manualnya,” jelas Surya. 

Semengtara itu, di Borobudur Silver, teknik tradisional dan pengerjaan tangan digunakan untuk produk yang ukurannya jauh lebih kecil. Salah satunya inovasi berupa bros janggan berantai, yang mengambil inspirasi dari aksesoris yang dikenakan pada kebaya aktris Dian Sastrowardoyo dalam serial Gadis Kretek. 

“Kalau kita bikin dengan double bros, kasih rantai, gara-gara film juga, katanya ada baju model janggan. Wah, orang nyari semua. Bisa nggak beli bros untuk matching-in baju janggan?” kata Selly.

Hari ini, para perajin seperti Selly, Lupita, Antarina, hingga Surya ingin menunjukkan bahwa membentuk perak bukan hanya soal mempertahankan teknik, tetapi juga bagaimana teknik itu terus digunakan untuk menghasilkan produk dengan desain yang mengikuti perkembangan zaman. Bentuknya, tentu saja, bisa tetap beragam: mulai dari perhiasan dengan rancangan personal hingga karya seni monumental.

Tim Editor
Writer: Pandangan Jogja
Reporter: Resti Damayanti
Editor: Nuha Khairunnisa