Skip to content

Siapa yang Akan Memberi Makan Indonesia?

Penulis
5 min read
Copied!
Siapa yang Akan Memberi Makan Indonesia?
Ilustrasi makanan indonesia. Foto: Fitria Nunik/Pexels

Untoro Hariadi*)

Siapa yang akan menghasilkan pangan untuk Indonesia jika semakin sedikit generasi muda yang melihat pertanian sebagai masa depan? Pertanyaan ini menyangkut kehidupan yang dapat kita tawarkan kepada orang-orang yang bekerja menghasilkan pangan.

Selama ini persoalan pangan sering dibicarakan melalui angka produksi, luas panen, impor, harga, produktivitas, dan teknologi. Semua itu penting. Namun, di balik seluruh sistem pangan tersebut ada manusia yang menanam, merawat, dan memanen. Pangan lahir dari tanah, air, benih, pengetahuan, kerja manusia, dan kehidupan petani.

Membicarakan masa depan pangan Indonesia dengan demikian perlu dimulai dari pertanyaan: apakah kita mampu menciptakan kehidupan yang membuat orang ingin terus menjadi petani?

Menjadi Petani sebagai Pilihan Hidup

petani-sawah-indonesia
Ilustrasi Petani. Foto: Andreas Suwardy/Pexels

Indonesia masih memiliki jutaan rumah tangga dan usaha pertanian. Namun, regenerasi petani menjadi persoalan karena banyak anak muda tidak lagi melihat pertanian sebagai pekerjaan yang menjanjikan kehidupan. Mereka lebih tertarik pada pekerjaan yang dianggap memberikan pendapatan lebih pasti, status sosial lebih baik, atau peluang hidup lebih luas.

Persoalannya bukan semata-mata apakah anak muda mau menjadi petani. Kita perlu memahami mengapa pekerjaan ini semakin sulit dibayangkan sebagai masa depan. Jika pertanian dipandang sebagai pekerjaan berat dengan pendapatan tidak pasti, bergantung pada cuaca dan harga pasar, serta dibatasi luas lahan, sulit mengharapkan generasi muda memilihnya secara sukarela.

Karena itu, regenerasi petani tidak cukup dilakukan dengan mengajarkan teknologi kepada anak muda. Pertanian perlu memungkinkan mereka membangun kehidupan yang layak, mengembangkan pengetahuan dan usaha, serta menemukan ruang bagi kreativitas dan kebanggaan.

Kemungkinan itu berkaitan erat dengan tanah. Di tengah pembicaraan mengenai kecerdasan buatan, robot, drone, sensor, dan pertanian presisi, tanah tetap menjadi dasar kehidupan pertanian. Teknologi dapat membantu mengukur kondisi tanah, memperkirakan cuaca, mengatur irigasi, atau meningkatkan efisiensi produksi. Namun, teknologi tidak menghapus kebutuhan terhadap tanah sebagai ruang pertanian.

Alih fungsi lahan, fragmentasi kepemilikan, degradasi tanah, perubahan iklim, dan persaingan penggunaan ruang membuat pertanian semakin sulit mempertahankan basis ekologisnya. Ketika tanah kehilangan kualitasnya, yang terancam bukan hanya produksi, melainkan juga kesempatan generasi berikutnya untuk menjadi petani.

Bagi petani, tanah merupakan tempat bekerja, belajar, membangun keluarga, dan mempertahankan kehidupan. Kehilangan tanah berarti kehilangan salah satu dasar kehidupan tersebut. Menjaga tanah, karena itu, merupakan bagian dari menjaga keberlanjutan pekerjaan petani.

Sebagian besar pertanian Indonesia masih dijalankan oleh petani dengan skala usaha relatif kecil. Dalam pembangunan pertanian, skala kecil sering dianggap sebagai persoalan yang harus diatasi dengan memperluas usaha, meningkatkan produksi, dan memodernisasi teknologi.

Namun, petani kecil juga memiliki pengetahuan, pengalaman, hubungan sosial, dan kemampuan beradaptasi yang tidak selalu dapat diukur melalui luas lahan atau jumlah produksi. Mereka mengenali perubahan tanah, musim, air, tanaman, dan lingkungan melalui pengalaman panjang.

Transformasi pertanian perlu memperkuat kemampuan tersebut. Petani harus memperoleh akses terhadap teknologi, informasi, dan pasar sekaligus tetap memiliki kendali atas keputusan pertaniannya. Mereka perlu ditempatkan sebagai pelaku yang ikut menentukan arah perubahan.

Teknologi dan Kendali atas Pengetahuan

teknologi-pertanian
Ilustrasi pertanian Indonesia. Foto: Muhammad Yunus/Pexels

Teknologi digital, kecerdasan buatan, Internet of Things, drone, sensor, dan berbagai platform pertanian dapat membantu meningkatkan produktivitas, efisiensi, serta ketepatan keputusan. Perkembangan ini juga membawa pertanyaan: apakah teknologi membantu petani mengambil keputusan atau justru memindahkan kendali atas keputusan itu ke pihak lain?

Ketika keputusan semakin ditentukan oleh algoritma, aplikasi, perusahaan teknologi, atau data yang tidak dipahami petani, posisi mereka dapat melemah. Petani tetap bekerja di lahan, sementara pengetahuan dan keputusan penting tentang pertaniannya berada di luar jangkauan mereka.

Pertanian digital seharusnya memperkuat kemampuan petani untuk memahami pilihan dan menentukan tindakan. Teknologi perlu membantu mereka berpikir lebih baik serta mempertahankan kendali atas usaha yang dijalankan.

Hal ini penting karena pertanian pada dasarnya merupakan kegiatan pengetahuan. Petani membaca alam, mengenali perubahan musim, memilih benih, memahami tanah, memperkirakan waktu tanam, mengelola air, dan membaca perilaku pasar.

Ilmu pengetahuan modern dan teknologi digital dapat memperkaya kemampuan tersebut. Masalah muncul ketika pengetahuan baru dianggap selalu lebih benar daripada pengetahuan yang telah hidup di masyarakat. Modernisasi yang mengabaikan pengalaman petani berisiko menghilangkan pengetahuan yang dibangun selama bertahun-tahun.

Masa depan pertanian membutuhkan pertemuan antara pengetahuan ilmiah, teknologi, dan pengetahuan lokal. Petani perlu dilibatkan sebagai penghasil pengetahuan, sehingga pengalaman mereka turut membentuk penelitian dan pengembangan teknologi.

Dalam pertanian digital, data juga menjadi sumber kekuasaan. Pihak yang mengumpulkan, menguasai, mengolah, dan menentukan penggunaan data memiliki pengaruh besar terhadap arah pertanian. Karena itu, kedudukan petani dalam pengelolaan data perlu menjadi bagian dari pembicaraan tentang modernisasi.

Tanggung Jawab Negara dan Pasar

Ilustrasi kegiatan pasar Indonesia. Foto: Rizky Rafael/Pexels

Negara memiliki peran penting dalam melindungi lahan, membangun infrastruktur, memperkuat penelitian, menjaga akses terhadap sarana produksi, membuka pasar, dan memastikan sistem pangan tidak mudah terguncang. Kebijakan tersebut perlu berangkat dari kehidupan nyata petani.

Negara dapat membangun irigasi dan menyediakan teknologi, tetapi keberhasilannya bergantung pula pada pengetahuan serta pengalaman orang yang mengelola lahan. Pembangunan pertanian dengan demikian perlu dinilai dari perbaikan kehidupan petani, bukan sekadar jumlah program yang dijalankan.

Perbaikan itu juga bergantung pada hubungan petani dengan pasar. Petani membutuhkan tempat untuk menjual hasil pertaniannya, tetapi harga, biaya produksi, distribusi, dan posisi tawar dapat menempatkan mereka dalam keadaan yang lemah.

Hilirisasi, koperasi, kelembagaan petani, teknologi pemasaran, dan akses informasi perlu diarahkan agar petani memperoleh nilai yang layak dari pekerjaannya. Pertanian sulit menawarkan masa depan jika orang yang menghasilkan pangan terus berada dalam posisi ekonomi yang tidak menguntungkan.

Konsumen turut berada dalam hubungan tersebut. Pangan sering dipandang sebagai barang yang harus tersedia murah dan mudah diperoleh. Padahal, di balik setiap makanan terdapat tanah, air, energi, pengetahuan, kerja, dan kehidupan manusia.

Memahami asal pangan, proses produksinya, serta dampak pilihan konsumsi terhadap petani dan lingkungan dapat memperkuat hubungan antara produsen dan konsumen. Hubungan keduanya memiliki konsekuensi bagi keberlanjutan pertanian.

Ketahanan pangan karena itu perlu diukur lebih luas daripada kecukupan jumlah pangan. Kita juga perlu bertanya siapa yang memproduksinya, bagaimana pangan dihasilkan, dan apakah sistem produksinya dapat bertahan dalam jangka panjang.

Kecukupan pangan yang disertai kerusakan tanah, ketergantungan teknologi, hilangnya pengetahuan lokal, atau kehidupan petani yang semakin tidak layak menyisakan persoalan mendasar. Keberlanjutan pangan membutuhkan perhatian terhadap kehidupan manusia, lingkungan, pengetahuan, ekonomi, dan keadilan antargenerasi.

Tidak ada satu pihak yang dapat memberi makan Indonesia sendirian. Petani membutuhkan tanah dan air yang terlindungi, pengetahuan dan teknologi yang dapat digunakan, serta pasar dan kebijakan yang memungkinkan mereka hidup layak. Dalam hubungan tersebut, petani memiliki posisi penting karena melalui pekerjaan merekalah potensi alam diolah menjadi pangan.

Indonesia membutuhkan orang-orang yang bersedia terus menghasilkan pangan. Pertanyaan tentang siapa yang akan memberi makan Indonesia pada akhirnya adalah pertanyaan tentang kehidupan seperti apa yang ingin kita bangun bagi mereka yang memberi makan Indonesia.

*) Penulis adalah alumni Filsafat UGM, dosen Fakultas Pertanian Universitas Janabadra.

Tim Editor
Writer: Pandangan Jogja
Reporter: Resti Damayanti
Editor: ES Putro