Skip to content

Saat Mahasiswa dan Pelajar SMA Mewarnai Geliat Musik Orkestra di Jogja

Penulis
4 min read
Copied!
Konser kolaborasi Melbourne Symphony Orchestra (MSO) dan Youth Music Camp di Auditorium Driyarkara Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta (9)
Konser kolaborasi Melbourne Symphony Orchestra (MSO) dan Youth Music Camp di Auditorium Driyarkara Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta, 11 Mei 2023. Foto: Pandangan Jogja

Hingga saat ini, belum ada data resmi yang menyebutkan jumlah kelompok orkestra di Jogja. Namun, delapan pelaku orkestra di Jogja yang kami temui menyebut Yogyakarta memiliki sangat banyak kelompok musik orkestra, dan jumlahnya tak kalah dibandingkan kota besar lainnya seperti Jakarta, Bandung, hingga Surabaya.

Tahun ini, aktivitas orkestra di Yogyakarta terus meningkat sepanjang tahun, terutama memasuki pertengahan tahun. Demikian disampaikan Vishnu Satyagraha, komposer yang juga merupakan Kepala Seksi Monitoring dan Evaluasi Dinas Kebudayaan DIY. 

Kamis (16/7) lalu, Vishnu juga baru saja menampilkan karyanya dalam konser Melbourne Symphony Orchestra di Auditorium Driyarkara Universitas Sanata Dharma.

“Di tahun 2026 ini saja kita melihat ada tren yang meningkat di bulan Juni ketika mulai menjelang liburan sekolah, banyak orkestra-orkestra di tingkat sekolah yang mengadakan pentas. Kemudian di bulan-bulan Juli ini ada beberapa pentas yang terjadi. Dan kemudian di Agustus besok akan sangat ramai, ada pertunjukan-pertunjukan terutama dalam momentum kemerdekaan dan keistimewaan Yogyakarta,” kata Vishnu kepada Pandangan Jogja pekan lalu.

Konser kolaborasi Melbourne Symphony Orchestra (MSO) dan Youth Music Camp di Auditorium Driyarkara Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta (11)
Konser kolaborasi Melbourne Symphony Orchestra (MSO) dan Youth Music Camp di Auditorium Driyarkara Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta, 11 Mei 2023. Foto: Pandangan Jogja

Menurutnya, ada tiga pilar yang menguatkan posisi orkestra di Yogyakarta, yakni infrastruktur, ruang pertunjukan, dan sumber daya manusia. Soal poin yang disebut terakhir, Vishnu cukup yakin bahwa skala ekosistem orkestra di Kota Pelajar tak kalah masif dibandingkan kota-kota besar lainnya.

“Kami cukup percaya diri bahwa Yogyakarta mempunyai banyak sekali kelompok orkestra. Kita bisa bersanding dengan kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Medan, Surabaya serta Semarang. Dalam lima itu kita cukup unggul,” ujarnya. 

Kampus hingga SMA jadi Mesin Penggerak Orkestra Jogja

Konser Gadjah Mada Chamber Orchestra (GMCO) Vol.12 bertajuk Samsara di Auditorium Driyarkara Universitas Sanata Dharma, Sabtu
Konser Gadjah Mada Chamber Orchestra (GMCO) Vol.12 bertajuk “Samsara” di Auditorium Driyarkara Universitas Sanata Dharma, Sabtu (30/5). Foto: Dok. GMCO

Kelompok pelajar menjadi salah satu kelompok yang rutin menggelar konser orkestra. Di lingkungan perguruan tinggi, misalnya, ada kelompok Gadjah Mada Chamber Orchestra (GMCO) di Universitas Gadjah Mada yang selalu menggelar konser setiap tahunnya.

Ketua GMCO, Medha Safia, menyebut kelompok yang berdiri sejak 2007 itu kini memiliki sekitar 53 pengurus aktif dari berbagai fakultas, mulai dari Kedokteran, MIPA, Teknik, hingga Ilmu Sosial dan Politik. Mereka rutin menggelar tiga konser setiap tahun, terdiri atas Mini Concert, Grand Concert, dan Simulation Concert untuk menyambut anggota baru. 

“Kalau Mini Concert, tiga tahun terakhir selalu sold out. Penontonnya sekitar 200 sampai 300 orang. Tahun 2024 Grand Concert juga sold out, sekitar 1.099 kursi terjual,” kata Medha.

Antusiasme serupa juga terlihat di tingkat sekolah menengah. Di SMA Negeri 3 Yogyakarta, misalnya, ada ekskul Padmanaba Orchestra yang rutin menggelar konser tahunan dengan konsep yang berbeda-beda. 

Konser Gadjah Mada Chamber Orchestra (GMCO) Vol.12 bertajuk Samsara di Auditorium Driyarkara Universitas Sanata Dharma (4)
Konser Gadjah Mada Chamber Orchestra (GMCO) Vol.12 bertajuk “Samsara” di Auditorium Driyarkara Universitas Sanata Dharma, Sabtu (30/5). Foto: Dok. GMCO

Awal tahun ini, mereka menggelar konser bertajuk “Lumoshpere” yang mengangkat film Harry Potter dan berkolaborasi dengan penyanyi Kunto Aji. Saat itu, sebanyak 2.000 tiket yang dibanderol Rp113.000–Rp193.000 ludes terjual.

Masih di tingkat SMA, sejumlah orkestra pelajar di Jogja juga tergabung dalam wadah kolaborasi bernama Forum Orchestra Yogyakarta (Forte). Pada Kamis (9/7) lalu, mereka baru saja menghadirkan konser bertajuk “Crescentia”, yang merupakan kolaborasi SMAN 1 Yogyakarta, SMAN 2 Yogyakarta, SMAN 3 Yogyakarta, SMAN 5 Yogyakarta, SMAN 8 Yogyakarta, SMAN 9 Yogyakarta, SMA Stella Duce 1, SMKN 2 Kasihan, dan SMA Muhammadiyah 1.

Guru pembina Padmanaba Orchestra sekaligus penggagas Forte, Guntara Aditya, mengatakan antusiasme masyarakat terhadap konser orkestra pelajar terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. 

Menurutnya, penonton yang datang tidak lagi terbatas pada orang tua siswa atau warga sekolah, tetapi juga masyarakat umum yang memang sengaja membeli tiket untuk menikmati pertunjukan.

Konser Gadjah Mada Chamber Orchestra (GMCO) Vol.12 bertajuk Samsara di Auditorium Driyarkara Universitas Sanata Dharma (2)
Konser Gadjah Mada Chamber Orchestra (GMCO) Vol.12 bertajuk “Samsara” di Auditorium Driyarkara Universitas Sanata Dharma, Sabtu (30/5). Foto: Dok. GMCO

“Kalau dulu mungkin yang datang lebih banyak keluarga siswa. Sekarang banyak penonton yang memang membeli tiket karena ingin menonton konsernya, bahkan bukan berasal dari sekolah-sekolah yang tampil,” ujarnya.

Ia juga melihat pertumbuhan itu tecermin dari semakin banyaknya sekolah yang ingin bergabung ke dalam Forte. Saat forum itu dibentuk, anggotanya baru lima sekolah. Kini jumlahnya bertambah menjadi delapan sekolah. Beberapa sekolah lain juga menurutnya mulai menunjukkan minat untuk ikut terlibat.

Bagi Guntara, perkembangan tersebut menunjukkan bahwa orkestra bukan lagi aktivitas yang hanya hidup di ruang latihan sekolah atau kampus. Konser-konsernya mulai memiliki penonton sendiri, sementara kelompok-kelompok baru terus bermunculan dan saling berkolaborasi.

Fenomena itu pula yang membuat Vishnu menilai Yogyakarta memiliki modal kuat sebagai salah satu kota dengan ekosistem orkestra terbesar di Indonesia. Meski belum ada data resmi mengenai jumlah kelompok orkestra yang aktif, geliatnya terlihat dari panggung yang terus terisi sepanjang tahun, mulai dari lingkungan Keraton, perguruan tinggi, komunitas, hingga sekolah-sekolah.

Liputan ini merupakan hasil kolaborasi dengan mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional UPN “Veteran” Yogyakarta, Muhammad Dzaky Fauzi.

Tim Editor
Writer: Pandangan Jogja
Reporter: Muhammad Dzaky Fauzi
Editor: Nuha Khairunnisa