Pandanganjogja – Kelompok suporter PSIM Yogyakarta yang tergabung dalam kolektif Gate 9/10 merilis film dokumenter pendek berjudul “Tali Pusar di Mandala, Sampai Kapan Disita?” melalui YouTube pada Rabu (3/6).
Dokumenter berdurasi sekitar 10 menit itu mengangkat persoalan belum jelasnya kelanjutan Stadion Mandala Krida yang hingga kini belum dapat digunakan kembali sebagai kandang PSIM.
Perwakilan suporter, Adit, mengatakan dokumenter tersebut berangkat dari movement yang dilakukan di tribun Timur Utara Stadion Sultan Agung (SSA) pada pertandingan terakhir PSIM musim lalu.
“Movement di pertandingan itu memang ditujukan buat menyuarakan kegelisahan teman-teman di sana,” kata Adit kepada Pandangan Jogja, Kamis (4/6).
Dokumenter tersebut diproduksi oleh tim kecil beranggotakan empat orang dari salah satu komunitas suporter yang tergabung dalam kolektif Gate 9/10. Seluruh proses pengerjaan dilakukan di sela aktivitas para anggota yang bekerja sebagai buruh maupun pekerja lepas.
Adit mengatakan judul Tali Pusar di Mandala, Sampai Kapan Disita? dipilih karena Mandala Krida memiliki makna tersendiri bagi suporter PSIM. “Rumah, tempat di mana kami lahir, tempat tumbuh kembang kami. Kalau kata The Glad, tali pusar kami tertanam di Mandala,” ujarnya.
Melalui dokumenter tersebut, suporter berharap percepatan penyelesaian persoalan Mandala Krida sekaligus menjaga perhatian publik terhadap stadion yang dibangun menggunakan dana negara.
“Yang pertama soal percepatan itu wajib. Yang kedua soal kesadaran publik, karena Mandala Krida adalah sarana publik yang dibangun dengan APBD dan APBN,” kata Adit.
*Derby Istimewa adalah perayaan atas momen bersejarah yang lama dinantikan: bertemunya PSIM Jogja dan PSS Sleman untuk pertama kalinya dalam sejarah di panggung tertinggi sepak bola Indonesia musim depan.
Aset: Video: YouTube From Terrace To The Stage Artikel: Pandangan Jogja