Pandanganjogja – Ratusan suporter PSIM Jogja menggelar laku budaya topo bisu dengan mengelilingi Stadion Mandala Krida sebanyak tujuh kali pada malam 1 Suro, Selasa (16/6) malam. Aksi tersebut menjadi bentuk doa dan harapan agar Laskar Mataram dapat kembali berkandang di stadion yang menjadi bagian dari sejarah klub.
Kegiatan diawali dengan berkumpul di Wisma PSIM, dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan melantunkan kidung. Selanjutnya, para suporter berjalan memasuki area Stadion Mandala Krida dalam keheningan dan mengitari stadion sebanyak tujuh putaran yang dimaknai sebagai simbol pitulungan atau permohonan pertolongan kepada Tuhan.
Penggagas topo bisu, Andri Miliran, mengatakan kegiatan tersebut berangkat dari aspirasi suporter yang merindukan kembalinya PSIM ke Mandala Krida.
“Mandala Krida adalah marwah kita. Di Mandala Krida, kita dilahirkan, dirawat, dan dibesarkan. Kita harus tetap memperjuangkan agar PSIM bisa main di Mandala Krida,” ujarnya ke awak media.
Menurut Andri, topo bisu dipilih karena dalam tradisi Jawa, diam bukan berarti menyerah, tetapi menjadi bentuk doa dan perenungan. Momentum malam 1 Suro dinilai tepat untuk mengetuk harapan agar PSIM dapat segera kembali menggunakan Mandala Krida sebagai kandang.
Selain menyuarakan kerinduan terhadap kandang PSIM, aksi tersebut juga menjadi sarana introspeksi bagi suporter agar menunjukkan budaya mendukung yang lebih tertib dan positif.
“Jangan sampai stigma suporter itu negatif. Kita harus mawas diri dan menunjukkan bahwa suporter PSIM itu berbudaya,” ujar Andri.
Aset: Artikel: Pandangan Jogja Video: Pandangan Jogja / Gigih Iman AD