
Taman Yuwono, Warisan Raja Batik Jogja yang Tersembunyi di Balik Malioboro
Berjarak sekitar 300 meter dari kawasan Malioboro, terdapat kompleks permukiman bergaya kolonial yang dulu menjadi kediaman orang-orang Belanda. Namanya Kompleks Taman Yuwono, berlokasi di Jalan Dagen dan masih satu area dengan Hotel Batik.
Kompleks Taman Yuwono dibangun pada tahun 1933 dan selesai pada 1938, di atas tanah pekarangan seluas 11.886 meter persegi milik Haji Bilal Atmajoewana. Di Jogja, Haji Bilal dikenal sebagai Raja Batik, salah satu pedagang batik paling sukses yang memulai bisnisnya sejak 1912.
Kawasan ini terdiri dari 21 rumah bergaya indis yang berjajar membentuk huruf “U”. Di tengah-tengahnya, terdapat taman dengan taman berbentuk oval yang ditumbuhi pepohonan dan terdapat lapangan tenis. Selain itu, ada dua tugu batu dan gapura putih di taman ini—keduanya dihiasi ukiran simbol yang sepintas tampak seperti bergaya Eropa. Rupanya, simbol berupa kupu-kupu, daun monstera, kadal, sayap, dan tangan menggenggam pena ini menyimpan makna filosofis dari sang pendiri.
Saat ini, Taman Yuwono menjadi aset milik Yayasan Banda Pamidjen Djangka Moelja, yayasan yang didirikan Haji Bilal pada 25 Desember 1938 untuk memajukan pendidikan anak keturunannya. Di pojok kompleks ini, terdapat Hotel Batik yang dikelola oleh salah satu putra keturunan Haji Bilal, Djawas Siswo Joewono. Nama hotel dipilih untuk mengenang usaha batik yang menjadi bisnis utama Haji Bilal.
Pada 2019, Taman Yuwono ditetapkan sebagai warisan budaya melalui SK Wali Kota Yogyakarta Nomor 297 Tahun 2019. Kini, sebagian rumah di kompleks kini digunakan sebagai homestay, dan sebagian lainnya disewakan sebagai tempat tinggal.
Aset:
Video: Pandangan Jogja
Artikel: Pandangan Jogja
#tamanyuwono #malioboro #pandanganjogjakultur #pandanganjogja #jalansore