
Saat Rol Kamera Sineas Ikut Berputar bersama Roda Ekonomi Jogja
Sedikitnya 10–12 film diproduksi di Yogyakarta setiap tahun. Mulai dari KKN di Desa Penari, Ada Apa dengan Cinta? 2, hingga Abadi Nan Jaya, deretan film tersebut menunjukkan Jogja bukan hanya lokasi syuting, tetapi juga salah satu pusat produksi film di Indonesia.
“Kalau dari empat PH ini saja dalam setahun sudah ada sekitar 10 sampai 12 produksi yang muncul. Belum dari PH lain. Jadi banyak sekali. Berarti bisa dikatakan setiap hari ada syuting di Jogja? Mungkin. Bisa jadi,” ujar Sidharta Tata, Filmmaker Jogja saat ditemui Pandangan Jogja.
Tingginya frekuensi produksi didukung ekosistem perfilman yang telah berkembang, mulai dari sumber daya manusia, penyewaan alat, transportasi, hingga layanan katering.
Dampak industri film juga dirasakan langsung oleh perekonomian daerah. Heni Dewi Sujanti Nugraheni menyebut sekitar 70–80 persen anggaran produksi film dibelanjakan di Yogyakarta.
“Kalau budget-nya Rp10 miliar, berarti satu syutingan minimal Rp7–8 miliar masuk ke Jogja. Untuk kru, alat, transportasi, catering, dan lain-lain. Kalau dari sisi produksi sebenarnya kita sudah punya semuanya,” ungkap Heni, filmmaker Jogja saat ditemui Pandangan Jogja.
Di balik potensi ekonomi tersebut, pelaku industri menilai Jogja masih membutuhkan tata kelola yang lebih kuat agar pertumbuhan industri perfilman berkelanjutan.
Saat ini, DPRD DIY tengah menyusun Rancangan Peraturan Daerah tentang Pengelolaan Perfilman sebagai pelengkap UU Perfilman Nomor 33 Tahun 2009 untuk memperkuat ekosistem perfilman di Yogyakarta.
Apa saja persoalan industri film Jogja yang ingin diselesaikan lewat regulasi ini? Simak selengkapnya di Insight Pandangan Jogja.
Aset:
Video: Pandangan Jogja, Istimewa
Artikel: Pandangan Jogja