
Jalan Sore ke Makam Pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan
Meski lahir dan banyak menjalankan dakwahnya di Kauman, Ahmad Dahlan sang pendiri Muhammadiyah ternyata tak dimakamkan di kampung tersebut. Peristirahatan terakhirnya berada di Kampung Karangkajen, sekitar 4 kilometer ke arah tenggara. KH Ahmad Dahlan dimakamkan secara sederhana di tengah perkampungan warga di Makam Karangkajen, yang terletak persis di belakang Masjid Jami’ Karangkajen. Makamnya berjajar dengan tokoh Muhammadiyah lain: KH Ahmad Badawi, KH Ibrahim, KH Noor, serta putrinya, Siti Aisyah Hilal.
Ada beberapa versi mengapa Ahmad Dahlan tak dimakamkan di Kauman sebagaimana sang istri, Siti Walidah atau Nyai Ahmad Dahlan, yang makamnya ada di kompleks Masjid Gedhe Kauman. Salah satu versi yang beredar di masyarakat menyebut, Ahmad Dahlan sengaja dimakamkan jauh dari Kampung Kauman untuk mencegah kerumunan di sekitar Keraton, yang berpotensi dimanfaatkan oleh penyusup. Sebagaimana diketahui, saat Ahmad Dahlan meninggal dunia pada 1923, Indonesia termasuk Yogyakarta masih berada di bawah pendudukan Belanda.
“Dia (Ahmad Dahlan) punya umat (dalam jumlah) besar. Nah, itulah yang ditakutkan kolonial (Belanda) itu. Takutnya (ada) penyusup yang masuk. Karena kan Kauman sama benteng itu kan hanya 300 meter, enggak jauh,” kata Ketua RT 43 Karangkajen, Juwantono, kepada Pandangan Jogja, Jumat (31/10).
Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DIY, Iwan Setiawan, menyebut makam Ahmad Dahlan dulunya tak banyak didatangi peziarah. Baru setelah diselenggarakannya Muktamar ke-46 yang menandai satu abad Muhammadiyah pada 2010, peziarah mulai banyak berdatangan.
“Ya, sejak Muktamar 1 Abad Muhammadiyah tahun 2010 itu, banyak jemaah atau banyak muktamarin itu yang mengunjungi makam dari Kiai Haji Ahmad Dahlan. Sebelumnya kalau saya melihat, sebelum tahun 2010 itu enggak terlalu banyak (peziarah) ya,” sebut Iwan saat dihubungi, Rabu (29/10).
Aset:
Artikel: Pandangan Jogja
Video: Pandangan Jogja