
Jalan Sore ke Makam Imogiri: Satu Makam, Dua Kerajaan
Astana Pajimatan Imogiri atau Makam Raja-raja Imogiri dibangun oleh Sultan Agung Hanyakrakusuma pada tahun 1632 di atas Bukit Merak, Bantul. Sultan Agung memilih kompleks pemakaman di bukit karena dalam kepercayaan Jawa kuno, tempat tinggi dianggap suci.
Setelah Perjanjian Giyanti tahun 1755, Kerajaan Mataram Islam pecah menjadi dua: Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta. Namun, Imogiri tidak ikut terbelah. Kedua kerajaan tetap menggunakannya sebagai makam rajanya masing-masing, sambil berbagi tanggung jawab menjaga tanah peninggalan Sultan Agung itu.
Kompleks Makam Raja-raja Imogiri terdiri dari sembilan kedhaton besar: dua peninggalan Mataram Islam, tiga milik Kasultanan Yogyakarta, dan tiga milik Kasunanan Surakarta.
Bagian barat kompleks (sebelah kanan makam Sultan Agung) digunakan untuk makam raja-raja Surakarta, sedangkan bagian timur (sebelah kiri makam Sultan Agung) untuk raja-raja Yogyakarta. Kasunanan Surakarta mendapatkan tempat di sebelah kanan karena usianya yang yang lebih tua dibandingkan Kesultanan Yogyakarta.
Empat abad berlalu, kompleks makam Imogiri masih dijaga oleh abdi dalem dari dua keraton. Total, terdapat sekitar 70 abdi dalem Keraton Surakarta dan lebih dari 100 abdi dalem Keraton Yogyakarta yang bertugas merawat, membersihkan makam, dan mendampingi para peziarah di Makam Raja-raja Mataram.
Makam dibuka untuk kunjungan setiap hari Senin (10.00–13.00 WIB), Jumat (13.00–16.00 WIB), dan Minggu (10.00–13.00 WIB).
Aset:
Artikel: Pandangan Jogja
Video: Pandangan Jogja
#makamimogiri #makamrajamataram #kerajaanmataram #kasultananyogyakarta #kasunanansurakarta #pakubuwonoxiii #jalansore #pjnews #pandanganjogja