
Jakarta sudah Deklarasi Kota Sinema, Jogja Kapan?
Yogyakarta dikenal sebagai salah satu pusat perfilman Indonesia. Meski memiliki ekosistem yang berkembang, pelaku industri menilai Jogja masih membutuhkan kebijakan yang kuat, di tengah langkah Jakarta mendeklarasikan Kota Sinema dan Surabaya memberi kemudahan bagi produksi film.
Sutradara Sidharta Tata menilai keberpihakan pemerintah daerah menjadi pembeda dalam membangun ekosistem perfilman. Ia mencontohkan pengalaman saat syuting di Surabaya, di mana pemerintah memfasilitasi kebutuhan produksi tanpa biaya.
“Saya kemarin habis syuting di Surabaya. Saya ngeblok area Tugu sampai Titik Nol Surabaya. Semua jalan benar-benar ditutup untuk kebutuhan syuting saya. Wali Kotanya, Cak Eri, benar-benar luar biasa menyambut kita sebagai filmmaker. Dia tidak memungut biaya sepeser pun. Pertanyaannya hari ini bisa enggak saya ngeblok Malioboro? Bisa enggak saya gratis di kota saya sendiri?” ujar Tata saat ditemui Pandangan Jogja.
Senada, Sutradara Wahyu Agung Prasetyo menilai industri film di Yogyakarta selama ini belum dipandang sebagai sektor yang mendesak untuk didukung melalui kebijakan.
“Film tuh masih kurang dianggap urgent. Kenapa kemudian baru didorong ada Raperda, ada film commission. Padahal harusnya itu sudah lahir dari lama, karena pertumbuhan film di Jogja luar biasa banget,” kata Agung saat ditemui Pandangan Jogja.
Melalui Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Pengelolaan Perfilman yang tengah disusun DPRD DIY, pelaku industri berharap Yogyakarta tidak hanya dikenal sebagai tempat lahirnya sineas dan lokasi syuting, tetapi juga memiliki regulasi, infrastruktur, dan dukungan pemerintah yang mampu mendorong pertumbuhan industri film secara berkelanjutan.
Aset:
Video: Pandangan Jogja, Istimewa
Artikel: Pandangan Jogja