
Di Sayidan dan di Tongkrongan Jogja Era 2000-an
Di Sayidan, di penghujung 90-an hingga awal 2000-an, kawasan kecil di jantung Jogja ini jadi titik temu anak muda. Tempat janji ketemu, ruang menepi selepas kuliah, juga tempat aman untuk membicarakan mimpi. Bukan ruang megah, hanya gang sempit, jalan kecil, dan jembatan sederhana yang akrab dengan langkah-langkah yang datang kembali setiap sore hingga malam.
Vokalis Shaggydog, Heruwa, mengenangnya begini: “Kalau dulu di Jogja ngomongin tongkrongan anak muda, ya salah satunya ya di Sayidan.” Kalimat itu bukan klaim besar, melainkan pengingat bahwa dalam peta tongkrongan Jogja, Sayidan adalah salah satu titik yang paling sering disebut.
Secara rupa, Sayidan adalah kampung kota: dinding-dinding rumah saling berhadapan, tangga-tangga sempit yang menghubungkan jalan, dan sebuah jembatan yang jadi penanda. Di tepinya, Kali Code mengalir—kadang tenang, kadang gaduh setelah hujan. Lanskap sederhana inilah yang membingkai kebiasaan: duduk di pinggir jalan, menunggu kawan, sembari menandai malam yang makin padat.
Dalam video ini, para personel Shaggydog—band yang lahir dari denyut kehidupan Sayidan—bercerita tentang bagaimana tongkrongan era itu membentuk mereka. Tentang bagaimana sebuah ruang sederhana bisa menyatukan beragam anak muda dengan musik, obrolan, dan kebersamaan.
#sayidan #disayidan #shaggydog #shaggydogjogja #sayidanjogja #realino #pajeksan #malioboro #jogja #tongkronganjogja #skenajogja #milisayidan #gondomanan #skenajogsel #pandanganjogjakultur #pandanganjogja