
Bakpao Gudeg Pertama di Jogja
Makan gudeg pakai nasi sudah biasa. Tapi bagaimana kalau gudeg, krecek, ayam suwir, dan areh dibungkus dalam satu bakpao?
Ide itulah yang membuat Butter Hour banyak dibicarakan. Berlokasi di Jalan Bumijo No. 9, Butter Hour sebenarnya sudah berdiri sejak 2020. Namun, salah satu produk yang paling mencuri perhatian adalah bakpao gudeg hasil kolaborasi dengan Gudeg Yu Djum Wijilan 167.
Bagi Silvia Adriana, founder Butter Hour, bakpao juga punya hubungan personal dengan masa kecilnya. Dari sana, makanan yang akrab baginya itu kemudian bertemu dengan salah satu makanan paling identik dengan Jogja.
Gudegnya datang dari Yu Djum 167, lalu diolah menjadi isian bakpao dengan beberapa lapisan rasa: gudeg, krecek, ayam suwir, dan areh. Satu gigitan, dapat pengalaman makan gudeg dalam format yang berbeda.
Menariknya, kolaborasi ini juga lahir dari keresahan bagaimana gudeg bisa terus menemukan cara baru untuk dinikmati lintas generasi. Bukan dengan mengubah identitasnya, tapi dengan membawanya ke bentuk yang mungkin lebih dekat dengan kebiasaan makan hari ini.
Di episode terbaru Skena Jogsel, kami jalan kaki dari Bons Fabrik ke Butter Hour, lalu menelusuri cerita di balik bakpao gudeg yang mempertemukan masa kecil, kuliner khas Jogja, dan keberanian untuk bereksperimen.
Karena kadang, untuk menjaga makanan tradisional tetap hidup, yang dibutuhkan bukan sekadar mempertahankan bentuknya, tetapi juga menemukan cara baru untuk menikmatinya.
#skenajogsel #skenajogselpandanganjogja #jogjaselatan #butterhour #gudegyudjum167