
Athonk: Punk Jogja 90-an Bukan Hitam-Hitam, tapi Warna-Warni
Skena punk Yogyakarta di era 1990-an lekat dengan ekspresi kebebasan dan respons terhadap situasi sosial-politik. Hal itu disampaikan Athonk Sapto Raharjo, seniman tato sekaligus sosok senior di komunitas punk Jogja. Menurut Athonk, punk pada masa itu tidak bisa dilepaskan dari situasi represif Orde Baru.
“Punk di era itu ya, kita pembangkangan, pembangkangan terhadap represinya Orde Baru zaman itu. Jadi sebenarnya itu kita lebih ngomongin soal kebebasan, karena kita nggak suka di-press sama rezim zaman itu,” kata Athonk saat ditemui Pandangan Jogja di acara The Beast: Ecky Lamoh Tribute Show di Asmara Art & Coffee Shop, Tirtodipuran, Senin (29/12/2025).
Athonk membandingkan penampilan anak punk pada pertengahan 1990-an dengan kondisi saat ini. Menurutnya, gaya berpakaian kala itu lebih beragam dan penuh warna, berbeda dengan punk hari ini yang identik dengan pakaian hitam-hitam.
“Pertengahan 90-an itu masih warna-warni. Rambut masih berdiri, masih dicat warna-warni.
Baju juga warna-warni, celana warna-warni. Warna-warna scotlight, pink atau merah. Celana kalau bisa kuning atau hijau,” kenangnya.
Terkait makna punk hari ini, Athonk menilai tak ada yang berbeda jauh selain dari segi busana. Sikap dan cara merespons situasi tetap menjadi salah satu inti dari komunitas ini, yang membuatnya tetap relevan di segala zaman.
“Punk akan selalu relevan dengan situasi kapan pun, karena dia fleksibel. Punk itu kayak kita merespon situasi sosial politik. Cara menjadi punk itu ya menjadi diri sendiri. Cuek, bebas, ekspresif,” pungkasnya.
#skenajogsel #punk #athonksaptoraharjo #pandanganjogja #pandanganjogjakultur