Mengapa Ada Banyak Kelompok Orkestra di Yogyakarta?

Di Yogyakarta, akar ekosistem musik orkestra terbentuk sejak awal abad ke-20, ketika tradisi musik Barat mulai berkembang di lingkungan Keraton Yogyakarta pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono VIII.
Ketua Jurusan Pendidikan Musik ISI Yogyakarta, Raden Mas Surtihadi, mengatakan perkembangan orkestra di Yogyakarta tidak bisa dilepaskan dari peran Keraton. Pada masa itu, sejumlah elemen musik Barat seperti trompet dan perkusi mulai digunakan dalam lingkungan Keraton, terutama untuk kebutuhan upacara militer.
Namun, bentuk yang lebih mendekati orkestra berkembang pada masa Sultan HB VIII melalui berbagai pertunjukan, salah satunya Beksan Lawung Ageng.
“Kalau kita ngomong orkestra itu sendiri memang ketika kehidupan musik orkestra di Yogyakarta itu mulai tumbuh dan berkembang pada era HB VIII atau mungkin boleh dikatakan awal abad 20,” kata Surtihadi kepada Pandangan Jogja pekan lalu.

Menurutnya, penggunaan instrumen Barat dalam pertunjukan Keraton saat itu tidak menggantikan karakter musik Jawa, melainkan menjadi elemen pelengkap. Instrumen seperti trompet, trombon, dan perkusi digunakan untuk memperkaya sajian gamelan, sementara unsur utama tetap berada pada musik tradisi Jawa.
“Keberadaan instrumen musik Eropa di dalam gamelan itu sebenarnya istilah Jawanya dienggo pepak-pepak, untuk melengkapi sebuah penyajian iringan tari. Dominasi tetap pada musik gamelannya, bukan pada musik Europanya,” jelasnya.
Tradisi tersebut menjadi salah satu fondasi awal berkembangnya musik orkestra di Yogyakarta. Setelah sempat mengalami masa vakum menjelang kemerdekaan, upaya menghidupkan kembali musik orkestra kembali muncul pada era modern, salah satunya melalui pembentukan dan pengembangan kelompok seperti Yogyakarta Royal Orchestra di Keraton Yogyakarta.
Regenerasi Pemain lewat Institusi Pendidikan

Keberlangsungan ekosistem orkestra di Yogyakarta tidak hanya ditentukan oleh institusi budaya, tetapi juga oleh institusi pendidikan musik yang melahirkan generasi pemain baru.
Surtihadi mengatakan, sejak awal perkembangan pendidikan musik di Yogyakarta, lingkungan Keraton turut berkontribusi dalam penyediaan sumber daya manusia. Ketika Sekolah Musik Indonesia dibentuk pada 1952, sejumlah tenaga pengajar berasal dari orang-orang yang sebelumnya memiliki kemampuan musik dari lingkungan Keraton.
Seiring waktu, pendidikan musik semakin berkembang melalui lembaga formal seperti Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Dari lembaga pendidikan tersebut, muncul musisi, pengajar, arranger, hingga pelatih yang kemudian menyebarkan kemampuan musik orkestra ke berbagai kelompok.
“Kontribusi sumber daya manusia dari ISI baik itu mahasiswa, sarjana ataupun dosen itu paling tidak ada kontribusi yang real terhadap dunia perkembangan orkestra di tanah air,” kata Surtihadi.

Menurutnya, banyak lulusan pendidikan musik di Yogyakarta yang kemudian berperan dalam perkembangan orkestra di daerah lain, termasuk Jakarta. Pada era 1980-an hingga 1990-an, sebagian pemain orkestra di Jakarta juga berasal dari Yogyakarta.
Penyebaran sumber daya manusia tersebut membuat budaya orkestra tidak berhenti pada pertunjukan, tetapi berkembang melalui komunitas dan ruang pendidikan. Para lulusan kembali menjadi pengajar, membentuk kelompok baru, dan melatih generasi berikutnya.
Manager Yogyakarta Royal Orchestra, Mei Artanto, mengatakan perkembangan ekosistem orkestra di Yogyakarta terbentuk melalui hubungan antara pendidikan, komunitas, dan musisi yang terus beregenerasi.
“Ketika kemunculan lembaga formal atau nonformal itu membuat perkembangan musik tersebut secara organik. Ada SMM (Sekolah Menengah Musik, kini SMKN 2 Kasihan-red), ada pendidikan musik di Jogja, kemudian ada komunitas. Itu sebagai ruang untuk membentuk SDM yang kompeten,” ujar Tata, panggilan akrabnya.
Regenerasi tersebut kemudian terlihat dari munculnya kelompok-kelompok orkestra di berbagai jenjang pendidikan. Tidak hanya perguruan tinggi, sejumlah sekolah menengah di Yogyakarta juga memiliki komunitas atau kegiatan musik yang melibatkan instrumen orkestra.
Manager Stage Konser Kolaborasi Dinas Kebudayaan DIY dan Melbourne Symphony Orchestra, Sheila Sanjaya, mengatakan keberadaan lembaga pendidikan, komunitas, dan ruang pertunjukan menjadi unsur yang saling mendukung dalam membangun ekosistem.
“Keselarasan itu dari infrastruktur, kemudian musisi yang ada terus beregenerasi dan kemudian memiliki jenjang-jenjang artistiknya sendiri. Kemudian juga ada pertunjukan yang secara berkala dihadirkan,” kata Sheila.
Kultur Kolaborasi yang Menopang Ekosistem Orkestra

Selain pendidikan, budaya kolaborasi juga menjadi faktor yang membuat ekosistem musik orkestra di Yogyakarta terus berkembang. Pertemuan antara mahasiswa dari berbagai daerah, komunitas seni, dan institusi pendidikan menciptakan ruang pertukaran kemampuan serta gagasan.
Tata mengatakan, karakter Yogyakarta berbeda dengan Jakarta yang lebih berkembang sebagai pusat industri musik. Menurutnya, kekuatan Yogyakarta berada pada pendidikan dan kebudayaan yang membentuk pola perkembangan orkestra yang berbeda.
“Yogyakarta akan menjadi Yogyakarta itu sendiri dengan banyak hal yang bisa dilakukan di sini. Potensinya kita ada, tempat konser ada, SDM-nya ada, kemudian target marketnya sebenarnya ada,” ujarnya.
Senada dengan Tata, Surtihadi menilai kekuatan utama Yogyakarta bukan hanya pada jumlah kelompok orkestra yang muncul, tetapi pada ekosistem yang terbentuk dalam waktu panjang. Tradisi musik, lembaga pendidikan, regenerasi pemain, dan keterlibatan komunitas menjadi rangkaian yang membuat musik orkestra tetap berkembang.
Liputan ini merupakan hasil kolaborasi dengan mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional UPN “Veteran” Yogyakarta, Muhammad Dzaky Fauzi.