Skip to content

Jogja, Pabrik Talenta Orkestra yang Justru Ditinggalkan Lulusannya ke Luar Kota

Penulis
5 min read
Copied!
Konser Gadjah Mada Chamber Orchestra (GMCO) Vol.12 bertajuk Samsara di Auditorium Driyarkara Universitas Sanata Dharma (1)
Konser Gadjah Mada Chamber Orchestra (GMCO) Vol.12 bertajuk “Samsara” di Auditorium Driyarkara Universitas Sanata Dharma, Sabtu (30/5). Foto: Dok. GMCO

Di balik bermunculannya talenta-talenta baru orkestra di Jogja, kota ini masih menghadapi tantangan untuk membuat orkestra menjadi ruang yang mampu menopang para pelakunya dalam jangka panjang.

Menurut Dosen Penciptaan Musik Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Puput Pramuditya, orkestra di Yogyakarta memiliki karakter yang unik. Ia menyebut ada dua tipe kelompok yang berkembang saat ini. 

Pertama, kelompok yang memiliki visi jangka panjang dengan program rutin dan sistem pengelolaan yang lebih stabil. Kedua, kelompok yang masih bergerak berdasarkan proyek atau permintaan pertunjukan.

“Orkestra di Jogja ini termasuk unik karena ada dua kutub. Yang pertama adalah orkestra yang punya visi misi jangka panjang seperti Yogyakarta Royal Orchestra misalnya atau UKM-UKM yang ada di kampus, itu orkestra yang saya pikir settle. Tapi di sisi yang lain ada juga orkestra yang tidak memiliki visi misi jangka panjang karena mereka hanya by project,” ujar Puput kepada Pandangan Jogja pekan lalu.

Konser Gadjah Mada Chamber Orchestra (GMCO) Vol.12 bertajuk Samsara di Auditorium Driyarkara Universitas Sanata Dharma
Konser Gadjah Mada Chamber Orchestra (GMCO) Vol.12 bertajuk “Samsara” di Auditorium Driyarkara Universitas Sanata Dharma, Sabtu (30/5). Foto: Dok. GMCO

Menurutnya, model orkestra berbasis proyek hanya cukup untuk membuat aktivitas orkestra tetap berjalan, tetapi belum mampu membentuk industri yang stabil. Lebih dari sekadar pertunjukan, ekosistem orkestra juga membutuhkan program rutin dan proses latihan berkelanjutan yang bertujuan pengembangan kualitas pemain.

“Untuk membuat industri yang settle dibutuhkan orkestra-orkestra dengan visi misi jangka panjang yang mungkin memiliki program-program tahunan, konser-konser rutin atau bahkan latihan-latihan yang punya tujuan tertentu untuk meningkatkan derajat permainan dari si orkestra yang sudah terbentuk ini,” katanya.

Salah satu kekuatan utama Yogyakarta adalah keberadaan lembaga pendidikan musik. Sekolah dan kampus, kata Puput, menjadi ruang yang terus menyuplai pemain, komposer, arranger, hingga konduktor baru.

Namun, besarnya suplai talenta tersebut juga menjadi tantangan tersendiri. Banyak lulusan pendidikan musik akhirnya memilih keluar dari Yogyakarta karena mencari peluang ekonomi yang lebih besar.

Konser kolaborasi Melbourne Symphony Orchestra (MSO) dan Youth Music Camp di Auditorium Driyarkara Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta (14)
Konser kolaborasi Melbourne Symphony Orchestra (MSO) dan Youth Music Camp di Auditorium Driyarkara Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta, 11 Mei 2023. Foto: Pandangan Jogja

Puput menyebut Yogyakarta memiliki peran besar sebagai pemasok sumber daya manusia bagi perkembangan orkestra di Indonesia. Namun, tidak semua talenta tersebut dapat terserap dalam ekosistem lokal.

“Alumni-alumni sekolah dan kampus yang mempunyai orkestra itu ternyata banyak juga yang akhirnya keluar ke kota-kota besar lain karena mencari penghidupan yang lebih baik,” ujar Puput.

Karena itu, menurutnya, Yogyakarta lebih tepat disebut sebagai kota laboratorium orkestra dibandingkan kota industri. Kota ini menjadi ruang pembentukan talenta dan eksperimen artistik, tetapi belum sepenuhnya memiliki rantai ekonomi yang kuat.

“Yogyakarta sebenarnya paling tepat tidak disebut sebagai kota industri untuk orkestra, tetapi saya pikir paling tepat adalah menjadi kota laboratorium karena di sini ini ibaratnya Kawah Candradimuka,” ujarnya.

Membangun Rantai Ekonomi dari Panggung Orkestra

Konser kolaborasi Melbourne Symphony Orchestra (MSO) dan Youth Music Camp di Auditorium Driyarkara Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta (5)
Konser kolaborasi Melbourne Symphony Orchestra (MSO) dan Youth Music Camp di Auditorium Driyarkara Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta, 11 Mei 2023. Foto: Pandangan Jogja

Selain persoalan organisasional, keberlanjutan industri orkestra juga berkaitan dengan hubungan antara pelaku dan penonton.

Puput mengatakan ekosistem seni tidak hanya membutuhkan pelaku yang menghasilkan karya, tetapi juga masyarakat yang mendukung karya tersebut. Menurutnya, Yogyakarta memiliki banyak penonton potensial, tetapi sebagian pertunjukan orkestra masih berlangsung tanpa tiket sehingga perputaran ekonomi belum maksimal.

“Kalau kita ngomongin ekosistem pasti ada dua hal yaitu pelaku dan apresiator atau penerima hasil dari yang dilakukan oleh si pelaku ini. Di Jogja mungkin apresiator banyak, tapi karena konser masih banyak yang nirbiaya, tidak profit, sehingga mungkin ekosistemnya tidak berjalan semulus seperti di kota-kota besar lainnya,” ujarnya.

Meski begitu, ia melihat mulai muncul perubahan dengan adanya pertunjukan orkestra yang menggunakan sistem tiket dan memiliki pasar sendiri. Hal tersebut menunjukkan masyarakat mulai melihat orkestra sebagai pertunjukan yang memiliki nilai ekonomi.

Konser Gadjah Mada Chamber Orchestra (GMCO) Vol.12 bertajuk Samsara di Auditorium Driyarkara Universitas Sanata Dharma (3)
Konser Gadjah Mada Chamber Orchestra (GMCO) Vol.12 bertajuk “Samsara” di Auditorium Driyarkara Universitas Sanata Dharma, Sabtu (30/5). Foto: Dok. GMCO

Kendati demikian, keberlanjutan sebuah kelompok orkestra tidak cukup hanya mengandalkan pendapatan dari tiket pertunjukan karena biaya operasionalnya cukup besar.

“Orkestra sendiri itu adalah organisasi yang kompleks dan besar. Sehingga kalau pertanyaannya apakah dia bisa hidup dari tiket saja, saya rasa kalau itu di Yogyakarta tidak,” kata Manager Yogyakarta Royal Orchestra, Mei Artanto atau akrab disapa Tata.

Menurutnya, keberlanjutan sebuah orkestra tidak hanya ditentukan oleh kemampuan musikal pemain. Pengelolaan orkestra membutuhkan manajemen keuangan, pengelolaan talenta, hingga produksi konser yang matang. Tanpa sistem yang kuat, keberlangsungan kelompok akan sangat bergantung pada proyek atau dukungan tertentu.

Ia melihat tantangan Yogyakarta bukan pada kurangnya potensi, melainkan bagaimana mengubah potensi tersebut menjadi model pengelolaan yang sesuai dengan karakter kota.

Konser Gadjah Mada Chamber Orchestra (GMCO) Vol.12 bertajuk Samsara di Auditorium Driyarkara Universitas Sanata Dharma (4)
Konser Gadjah Mada Chamber Orchestra (GMCO) Vol.12 bertajuk “Samsara” di Auditorium Driyarkara Universitas Sanata Dharma, Sabtu (30/5). Foto: Dok. GMCO

“Yogyakarta akan menjadi Yogyakarta itu sendiri. Potensinya kita ada, tempat konser ada, SDM-nya ada, kemudian target marketnya sebenarnya ada. Tetapi cara eksekusi dalam mengemas pertunjukannya kemudian dengan model bisnisnya saya kira pasti akan berbeda dengan Jakarta,” kata Tata.

Sementara itu, Kepala Seksi Monitoring dan Evaluasi Dinas Kebudayaan DIY, Vishnu Satyagraha, menilai Yogyakarta sebenarnya memiliki hampir seluruh modal untuk membangun ekosistem orkestra yang kuat.

Menurutnya, Yogyakarta memiliki sumber daya manusia, ruang pertunjukan, serta masyarakat yang tertarik dengan pertunjukan musik. Tantangannya adalah bagaimana berbagai unsur tersebut dapat terhubung dalam sistem yang berkelanjutan.

Konser Gadjah Mada Chamber Orchestra (GMCO) Vol.12 bertajuk Samsara di Auditorium Driyarkara Universitas Sanata Dharma (5)
Konser Gadjah Mada Chamber Orchestra (GMCO) Vol.12 bertajuk “Samsara” di Auditorium Driyarkara Universitas Sanata Dharma, Sabtu (30/5). Foto: Dok. GMCO

“Kita bisa melihat bahwa ruang-ruang itu tersedia di Jogja. SDM-nya ada, infrastrukturnya ada, kemudian target market sebenarnya ada. Tinggal bagaimana pengemasannya,” ujar Vishnu.

Bagi para pelaku musik, tantangan orkestra Yogyakarta ke depan bukan lagi sekadar melahirkan kelompok baru. Tantangan berikutnya adalah memastikan ekosistem yang sudah tumbuh mampu menciptakan ruang hidup bagi para pelakunya.

Liputan ini merupakan hasil kolaborasi dengan mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional UPN “Veteran” Yogyakarta, Muhammad Dzaky Fauzi.

Tim Editor
Writer: Pandangan Jogja
Reporter: Muhammad Dzaky Fauzi
Editor: Nuha Khairunnisa