Dinkes Kulon Progo soal Dugaan Keracunan MBG di Wates: Food Handler Tak Pakai APD

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kulon Progo mengungkap hasil penyelidikan epidemiologi (PE) sementara terkait dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Wates.
Investigasi menemukan sejumlah faktor risiko dalam proses pengolahan makanan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Karangwuni, mulai dari penjamah makanan (food handler) yang tidak menggunakan alat pelindung diri (APD), jeda waktu 8–10 jam antara proses memasak dan konsumsi, hingga menu ayam saus barbeque yang memiliki tingkat risiko tertinggi berdasarkan analisis sementara.
Kepala Dinas Kesehatan Kulon Progo, dr. RR Susilaningsih, mengatakan hasil investigasi awal menemukan sejumlah faktor yang berpotensi berkontribusi terhadap dugaan keracunan pangan.
“Berdasarkan hasil investigasi awal, wawancara, dan penelusuran alur produksi makanan, terdapat beberapa faktor risiko yang berpotensi berkontribusi terhadap kejadian dugaan keracunan pangan,” ujar Susilaningsih saat dihubungi Pandangan Jogja, Kamis (23/7).
Penyelidikan dilakukan setelah Puskesmas Wates menerima laporan dugaan kejadian luar biasa (KLB) keracunan makanan pada Selasa (21/7). Makanan yang diduga berkaitan dengan kejadian tersebut merupakan menu MBG yang dikonsumsi pada Senin (20/7), yakni nasi putih, ayam saus barbeque, cah pakcoy wortel, tahu goreng bawang, dan buah anggur.
Berdasarkan hasil penelusuran, proses pengolahan makanan dilakukan sejak malam hingga dini hari dengan jeda sekitar 8–10 jam sebelum dikonsumsi. Kondisi tersebut dinilai berpotensi meningkatkan pertumbuhan bakteri pada makanan berisiko tinggi.

Selain itu, proses pemasakan yang melalui beberapa tahapan juga meningkatkan potensi kontaminasi silang apabila higiene penjamah maupun sanitasi peralatan tidak optimal.
“Proses pengolahan dilakukan sejak malam hingga dini hari, dengan jeda waktu cukup panjang antara selesai memasak dan waktu konsumsi (±8–10 jam), sehingga meningkatkan risiko pertumbuhan bakteri pada makanan berisiko tinggi,” katanya.
Tim investigasi juga menemukan sejumlah catatan terkait higiene dan sanitasi. Berdasarkan pemeriksaan CCTV, penjamah makanan diketahui tidak menggunakan APD saat proses penyiapan makanan.
Selain itu, ditemukan suhu pada beberapa alat penyimpanan tidak sesuai dengan monitor pemantauan, kondisi bangunan belum rapat terhadap serangga, banyak lalat di area dapur, serta penyimpanan bank sampel makanan yang belum representatif.
“Berdasarkan pemeriksaan CCTV, saat proses penyiapan makanan penjamah tidak menggunakan APD,” lanjut Susilaningsih.
Hasil PE lanjutan menunjukkan menu ayam saus barbeque memiliki attack rate ratio (ARR) terbesar, yakni 4,39. Dalam investigasi juga disebutkan ayam merupakan bahan pangan yang berisiko tinggi terhadap kontaminasi bakteri seperti Salmonella dan Clostridium perfringens.
Meski demikian, Dinkes menegaskan temuan tersebut masih berupa faktor risiko dan belum dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan penyebab dugaan keracunan.
Hingga pemutakhiran data terakhir, sebanyak 127 orang dilaporkan mengalami gejala, terdiri atas 116 siswa, tiga tenaga pendidik, satu ibu hamil, dua ibu menyusui, dan dua balita. Gejala yang paling banyak dikeluhkan ialah nyeri perut, diare, dan pusing. Tidak ada pasien yang menjalani rawat inap.
Dinkes Kulon Progo masih melanjutkan penyelidikan epidemiologi, melakukan pemutakhiran data kasus, serta menunggu hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel biologis untuk memastikan penyebab dugaan keracunan tersebut.