Skip to content

Bermula dari Tempat Sederhana, 3 Founder Lokal Bangun Bisnis Jangkau Pasar Global

Penulis
4 min read
Copied!
Bermula dari Tempat Sederhana, 3 Founder Lokal Bangun Bisnis Jangkau Pasar Global
Diplomat Success Challenge (DSC) musim ke-16, program kompetisi dan pengembangan bisnis yang diinisiasi oleh Wismilak Foundation untuk mendukung para wirausahawan melalui pendampingan dan hibah modal usaha. Foto: Dok. Istimewa

Kantor pertama sebuah bisnis tidak selalu berbentuk kantor. Sebelum berkembang menjadi brand global, sejumlah perusahaan besar dunia juga memulai bisnis dari ruang sederhana.

Cikal bakal Nike, yang saat itu masih bernama Blue Ribbon Sports, pernah menggunakan ruang laundry di basement rumah orang tua Phil Knight sebagai kantor pada 1964. Ben & Jerry’s membuka toko es krim pertamanya di bekas pom bensin yang direnovasi di Burlington, Vermont, pada 1978. Sementara Google, setelah sebelumnya dikembangkan dari kamar asrama, pindah ke kantor pertamanya berupa garasi di Menlo Park, California, pada 1998.

Titik awal sederhana juga menjadi bagian dari perjalanan sejumlah brand lokal asal Yogyakarta dan Jawa Tengah. Ada yang memulai usaha dengan mendorong gerobak, merancang mikrofon di workshop sederhana, hingga memanfaatkan warung Burjo sebagai tempat bekerja karena menyediakan WiFi gratis.

Mereka adalah Chockles, Seruniaudio, dan Naruna. Ketiganya kini berkembang dengan tantangan berbeda, mulai dari menyesuaikan strategi penjualan, memperluas pasar internasional, hingga meningkatkan kapasitas produksi.

Para pendirinya juga pernah mengikuti Diplomat Success Challenge (DSC) dan terhubung melalui jaringan alumni Diplomat Entrepreneur Network (DEN). Pandangan Jogja berkesempatan melihat langsung perkembangan ketiga bisnis tersebut.

Chockles: Dua Tahun Mendorong Gerobak di Kawasan Pogung Yogyakarta

Rehan Abdullah Salam merintis Chockles pada 2014 dengan berjualan es cokelat menggunakan gerobak. Setelah dua tahun mengumpulkan modal, ia membuka kios pertamanya di kawasan Pogung, Yogyakarta, pada 2016.

“Saya dorong gerobak selama dua tahun, dari 2014 ke 2016. Modal terkumpul cukup, lalu bikinlah satu kios. Saat itu di daerah Pandega Marta, daerah Pogung, Jalan Kaliurang,” kata Rehan.

Rehan merupakan finalis DSC 2014. Bisnisnya kemudian berkembang hingga memiliki sejumlah outlet, tetapi pandemi dan perubahan pasar membuat banyak di antaranya tutup.

Untuk menyesuaikan kondisi tersebut, Rehan mengembangkan lini business-to-business (B2B) dengan menyediakan produk cokelat bagi kedai kopi dan mitra usaha lainnya.

“Perlu banyak kegagalan untuk dapat formula yang pas. Karena saya orang produk, yang saya bisa lakukan adalah konsisten dan optimal di produk,” ujarnya.

Kini, Chockles kembali membangun jaringan outlet secara bertahap.

Seruniaudio: dari Workshop di Sleman hingga Pasar Luar Negeri

Cretta Cucu Abdullah, pendiri Seruniaudio, produsen mikrofon asal Yogyakarta yang mulai memperluas distribusi produknya ke pasar internasional. Foto: Dok. Istimewa

Cretta Cucu Abdullah bersama timnya mendirikan Seruniaudio pada 2015. Dari workshop sederhana di Gamping, Sleman, mereka mengembangkan mikrofon pertama bernama SEM-01.

Pada tahun yang sama, Cretta menjadi runner-up DSC 2015 dan memperoleh hibah modal usaha sekitar Rp250 juta untuk pengembangan bisnis.

Kini, produk Seruniaudio telah memiliki distributor di Osaka, Jepang, serta mulai dikirim ke Kanada dan Turki. Perusahaan ini juga berkolaborasi dengan Avara dan Verus, sesama alumni DSC, untuk mengembangkan Binaural In-Ear Microphone (BIEM).

“DSC itu nggak hanya cuma ekosistem bisnis di mana kalian bisa mendapat hibah modal usaha. Di situ salah satunya adalah kalian bisa mendapatkan partner atau mendapatkan ruang untuk berkolaborasi yang real, yang nyata,” kata Cretta.

Naruna: dari Garasi di Salatiga hingga Ekspor ke 18 Negara

Indra Purwidiyanto, salah satu pendiri Naruna, bisnis keramik asal Salatiga yang produknya telah diekspor ke 18 negara. Foto: Pandangan jogja/Arif UT

Indra Purwidiyanto bersama dua rekannya merintis bisnis keramik Naruna dari sebuah garasi di Salatiga pada 2019. Karena belum memiliki kantor dan akses internet sendiri, mereka bahkan memanfaatkan warung burjo untuk bekerja.

“Dulu kalau kita kantor tuh di mana? Burjo. Belinya es teh sama mendoan setiap hari, dari jam 8 sampai jam 5. Karena apa? Karena di situ ada free WiFi-nya. Yang penting market-nya tetap jalan,” kata Indra.

Bisnisnya terus berkembang. Berdasarkan catatan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah pada April 2026, produk Naruna telah diekspor ke 18 negara.

Indra kemudian mengikuti DSC Season 15 dan meraih Best of the Best. Dukungan dari program tersebut antara lain digunakan untuk membeli tungku pembakaran berkapasitas lebih besar guna meningkatkan produksi saat Naruna membangun pabrik baru.

Perjalanan ketiga bisnis tersebut menunjukkan bagaimana tantangan usaha berubah seiring pertumbuhan, dari keterbatasan fasilitas pada masa awal hingga kebutuhan memperluas pasar, produksi, dan kolaborasi.

Tahun ini, Diplomat Success Challenge (DSC) memasuki musim ke-17 dengan mengusung konsep Founders’ Arena. Program ini terbuka bagi pelaku usaha maupun mereka yang baru memiliki ide bisnis. Peserta yang masuk tahap inkubasi akan mendapatkan pendampingan melalui mentoring, coaching, dan case challenge, dengan total hibah modal usaha Rp2,5 miliar.

Kini, giliran para founder lainnya memulai babak baru dalam perjalanan mengembangkan bisnis mereka. Proses, tantangan, hingga perkembangan usaha para peserta Founders’ Arena dapat diikuti melalui Instagram @foundersarena.id.

Tim Editor
Writer: Pandangan Jogja
Reporter: Gracetika
Editor: Pandangan Jogja