Skip to content

Ada 48 Kasus Keracunan MBG di DIY sejak 2025, Total Korban Capai 5.567 Orang

Penulis
2 min read
Copied!
Ada 48 Kasus Keracunan MBG di DIY sejak 2025, Total Korban Capai 5.567 Orang
Penyajian Makanan Bergizi Gratis (MBG). Foto: Dok. Istimewa.

Dinas Kesehatan Daerah Istimewa Yogyakarta (Dinkes DIY) mencatat selama hampir dua tahun terakhir yakni 2025-2026 ini, terdapat 48 kasus keracunan makanan dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG). 

Kepala Dinkes DIY, Gregorius Anung Trihadi, mengatakan ada 25 kasus keracunan pada 2025, sementara 2026 tercatat 23 kasus hingga September ini. Dari puluhan kasus tersebut, jumlah korban mencapai 5.567 orang.

”Yang menjadi catatan kami di 2025 itu ada 25 kasus, kalau 2026 itu ada 23 kasus. Kalau total korbannya dari 2025 itu ada 5.567 korban,” kata Anung dihubungi awak media, Jumat (25/9).

Dari seluruh wilayah di DIY, Kabupaten Sleman menjadi daerah dengan jumlah kasus dan korban yang cukup tinggi. Anung menyebut kondisi tersebut salah satunya berkaitan dengan jumlah penduduk Sleman yang merupakan yang terbanyak di DIY.

“Kasus terbanyak ada di Kabupaten Sleman, ada sekitar 2.000-an korban dengan 18 kasus selama 2 tahun tersebut,” jelasnya.

Ilustrasi Food Handler Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang mengenakan APD(Alat Pengamanan Diri) Secara Lengkap
Ilustrasi Food Handler Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang mengenakan Alat Pengamanan Diri (APD) Secara Lengkap. Foto: Canva

Anung juga menjelaskan, sebagian besar korban keracunan MBG tidak sampai menjalani rawat inap. Gejala yang paling banyak ditemukan berupa gangguan pencernaan seperti diare dan muntah, yang umumnya ditangani sebagai kasus rawat jalan.

Korban baru perlu menjalani perawatan di rumah sakit apabila mengalami diare atau muntah yang cukup parah hingga tidak mampu makan dan minum. Namun, berdasarkan data Dinkes DIY, proporsi kasus yang membutuhkan rawat inap relatif kecil.

“Rata-rata merupakan kasus rawat jalan. Kasus rawat jalan itu gejalanya biasanya berupa diare dan muntah. Gangguan pencernaan akibat kecurigaan kontaminasi bakteri ini gejala utamanya memang diare dan muntah,” ujarnya.

“Hampir di atas 90 persen kurang lebih dari data tersebut rawat jalan,” tambahnya.

Tim Editor
Writer: Pandangan Jogja
Reporter: Resti Damayanti
Editor: Widi RH Pradana