Dari Rumah Bambu hingga Punya Mobil, UMKM di Bantul Tumbuh Berkat E-Commerce

Rumah berdinding bambu dan sepeda kayuh pernah menjadi bagian dari keseharian Slamet Riyadi saat merintis Griya Handycraft di Imogiri, Bantul. Berbekal modal Rp350.000 yang dikumpulkan dari hasil bekerja di sejumlah tempat usaha di Yogyakarta, ia membangun usaha kerajinan rumahan yang kini berkembang menjadi produsen kotak makeup dan kotak perhiasan dengan penjualan hingga 10 kali lipat di platform e-commerce.
Peralihan ke platform e-commerce menjadi titik balik perkembangan Griya Handycraft. Setelah mulai memasarkan produknya melalui toko online pada 2021, volume penjualan yang semula hanya sekitar 40–50 resi per minggu melalui jaringan reseller meningkat menjadi 40–50 resi per hari.
Saat periode promosi, jumlah pengiriman bahkan mencapai 100–120 resi per hari. Pertumbuhan tersebut mendorong peningkatan kapasitas produksi sekaligus membuka lapangan pekerjaan bagi warga sekitar.

Slamet Riyadi mengatakan sebelum bergabung dengan online shop, penjualan produknya masih mengandalkan jaringan reseller di sekitar Yogyakarta dengan jumlah pesanan yang relatif terbatas.
“Di 2021 kita cuma mensuplai di beberapa reseller itu hanya per minggu kadang itu kita cuma ngejual di sekitar 40 sampai 50 resi per minggu,” kata Slamet, Saat di temui Pandangan Jogja, Selasa (30/6)
Setelah memasarkan produknya melalui e-commerce, menurut Slamet, volume penjualan meningkat secara signifikan.
“Tapi kalau setelah kita ikut Shopee atau join di Shopee penjualannya itu per harinya kita di 40 sampai 50 resi. Soalnya kadang kalau nanti pas event itu kadang di 100 sampai 120,” ujarnya.
Meningkatnya permintaan membuat Griya Handycraft memperluas kapasitas produksi. Peralatan yang sebelumnya serba manual kini dilengkapi mesin jahit, mesin cetak emboss, hingga mesin cetak inisial nama. Jumlah tenaga kerja juga bertambah. Dari yang semula hanya dikelola Slamet bersama istrinya, kini usaha tersebut mempekerjakan 12 orang serta bermitra dengan sejumlah penyuplai.
“Dari yang dulu kita cuma berdua sama istri, ini udah ada sekitar 12 dengan tim-tim kita yang ada di luar sebagai penyuplai atau mitra dari usaha kita,” kata Slamet.
Perjalanan usaha itu bermula pada 2009 dengan modal Rp350.000 yang berasal dari tabungan pribadi, bukan pinjaman. Dana tersebut digunakan untuk membuat delapan produk pertama yang kemudian dipasarkan ke sejumlah reseller di Yogyakarta.

“Modal di awal kita di Rp350.000 itu memang dari tabungan kita ikut kerja di tempat-tempat owner di sekitar Jogja. Jadi kita sisihin untuk niat usaha mandiri seperti itu,” kata Slamet.
Perkembangan usaha tidak hanya meningkatkan kapasitas produksi, tetapi juga mengubah kondisi ekonomi keluarga Slamet. Rumah yang sebelumnya berdinding bambu kini telah menjadi rumah permanen, sementara sepeda kayuh yang dulu menjadi alat transportasi utama telah berganti menjadi kendaraan roda empat.
Bagi Slamet, pertumbuhan Griya Handycraft tidak hanya diukur dari peningkatan penjualan, tetapi juga dari manfaat yang dapat dirasakan masyarakat di sekitarnya. Usaha yang berlokasi di Karangkulon, Wukirsari, Imogiri, itu kini menjadi sumber penghasilan bagi warga di sekitar rumah produksi yang berada di kawasan bawah Makam Raja-Raja Imogiri.
“Kita ingin mengembangkan rekan-rekan yang nganggur di sekitar kita,” pungkasnya.