Skip to content

Universitas Paramadina Gelar Edukasi Literasi Digital bagi Warga Bekasi

Pandangan Jogja
Pandangan Jogja
3 min read
Copied!
Narasumber dan panitia Kampanye Literasi Digital “Cek Sebelum Cekcok” berfoto bersama usai kegiatan edukasi literasi digital bagi warga Kelurahan Bintara, Bekasi Barat. Foto: Dok. Istimewa

Program Studi Magister Ilmu Komunikasi Universitas Paramadina mengedukasi 150 warga Kelurahan Bintara, Bekasi Barat, mengenai bahaya hoaks, deepfake, dan penipuan siber berbasis kecerdasan buatan (AI) melalui program literasi digital bertajuk Cek Sebelum Cekcok, Sabtu (4/7). Kegiatan yang didominasi peserta ibu rumah tangga itu bertujuan meningkatkan kemampuan masyarakat mengenali sekaligus memverifikasi informasi sebelum membagikannya di grup WhatsApp maupun media sosial.

Ketua Pelaksana kegiatan sekaligus mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi Universitas Paramadina, Mona Azhari Nissaq, mengatakan edukasi tersebut menyasar masyarakat akar rumput karena ibu rumah tangga dan warga di lingkungan RT/RW selama ini menjadi simpul utama penyebaran informasi di grup percakapan keluarga.

“Kami berharap 150 warga Kelurahan Bintara yang hadir hari ini tidak hanya paham cara mengenali hoaks dan konten deepfake, tetapi juga menjadi agen literasi digital bagi lingkungan sekitarnya, sehingga semangat ‘Tarik Napas, Cek, dan Pastikan’ benar-benar melekat dalam keseharian mereka,” kata Mona.

Program pengabdian kepada masyarakat itu diselenggarakan Program Studi Magister Ilmu Komunikasi Universitas Paramadina bekerja sama dengan Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemenkomdigi) serta sejumlah pelaku industri. Kegiatan tersebut dilatarbelakangi meningkatnya ancaman disinformasi berbasis AI generatif yang memungkinkan pelaku kejahatan membuat video deepfake maupun kloning suara dengan biaya murah dan kualitas yang semakin sulit dibedakan dari konten asli.

Dalam pemaparan materi, Senior Product Marketing Specialist Pintu, Reyner Jonathan, menjelaskan pelaku penipuan memanfaatkan teknologi AI untuk menciptakan situasi yang membuat korban panik sehingga tidak sempat melakukan verifikasi. Menurut dia, terdapat tiga modus yang kini banyak digunakan, yakni penipuan investasi dan giveaway menggunakan video deepfake tokoh publik, kloning suara anggota keluarga untuk meminta uang secara darurat, serta phishing melalui tautan WhatsApp berkedok pemberitahuan paket atau layanan tertentu.

Sekitar 150 warga Kelurahan Bintara, Bekasi Barat, mengikuti Kampanye Literasi Digital “Cek Sebelum Cekcok” yang diselenggarakan Universitas Paramadina untuk meningkatkan kemampuan masyarakat memverifikasi informasi dan mengenali konten hoaks berbasis AI. Foto: Dok. Istimewa

Reyner mengimbau masyarakat mengenali sejumlah ciri konten AI, seperti gerakan bibir yang tidak sinkron, ekspresi wajah yang kaku, hingga bentuk anatomi yang tidak wajar. Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak pernah memberikan kode One Time Password (OTP) kepada siapa pun.

Selain membahas ancaman AI, peserta juga mendapat pembekalan mengenai pentingnya menghentikan kebiasaan menyebarkan informasi tanpa verifikasi di grup WhatsApp. Berdasarkan pemetaan sosial yang dilakukan tim Universitas Paramadina pada Juni 2026, ditemukan kecenderungan warga membagikan informasi secara impulsif tanpa memastikan kebenarannya, fenomena yang disebut sebagai Shareable Syndrome.

Dekan Fakultas Falsafah dan Peradaban Universitas Paramadina, Dr. Rini Sudarmanti, mengatakan kesalahan informasi sekecil apa pun dapat berkembang menjadi kepanikan apabila terus diteruskan di ruang percakapan digital. Karena itu, masyarakat perlu membiasakan langkah “Tarik Napas, Cek, dan Pastikan” sebelum membagikan informasi kepada orang lain.

Melalui pendekatan tersebut, warga diajak menahan diri sebelum meneruskan pesan, memeriksa sumber informasi, melakukan verifikasi melalui mesin pencari, portal pemeriksa fakta maupun kanal resmi pemerintah, serta meluruskan informasi yang terbukti keliru secara santun di dalam grup percakapan.

Dalam kegiatan tersebut, peserta juga diperkenalkan pada pemanfaatan AI secara positif. Teknologi AI generatif dikenalkan sebagai asisten untuk membantu menyusun resep masakan, membandingkan produk sebelum berbelanja, hingga membuat materi promosi bagi pelaku UMKM, sehingga masyarakat tidak hanya memahami risiko AI tetapi juga dapat memanfaatkannya secara produktif.

Tim Editor
Writer: Pandangan Jogja
Reporter: Resti Damayanti
Editor: Widi RH Pradana