Walkot Yogya: Dari 1.600 Ibu Hamil di Kota Yogya, Baru 67 yang Terima MBG

Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo. Foto: Pandangan Jogja/Gigih Imanadi Darma

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Yogyakarta baru menjangkau sebagian kecil kelompok rentan. Dari sekitar 1.600 ibu hamil per tahun, baru 67 orang yang tercatat menerima manfaat program tersebut.

Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, mengungkapkan penerima dari kelompok ibu menyusui dan balita juga masih terbatas.

“Yang menerima manfaat itu dari ibu hamil di tahun yang berjalan ini baru 67 orang. Kemudian ibu menyusui 760 orang, kemudian balita baru 695 orang dari balitanya 10 ribu tadi,” ujarnya kepada awak media, Rabu (15/4).

Berdasarkan data Pemkot, jumlah balita di Kota Yogyakarta mencapai lebih dari 10.361 anak. Sementara jumlah ibu hamil setiap tahun sekitar 1.600 orang.

Di sisi lain, penerima MBG dari kalangan guru dan tenaga pendidikan justru mencapai 3.987 orang.

“Untuk guru dan tenaga pendidikan yang menerima sudah 3.987 orang. Sementara ibu hamil baru 67 orang, ibu menyusui 760 orang, dan balita 695 orang,” kata Hasto.

Ia menilai distribusi penerima manfaat perlu diarahkan ulang agar lebih fokus pada kelompok rentan, khususnya dalam periode 1.000 hari pertama kehidupan.

Arahan itu, lanjut dia, merespons wacana Presiden Prabowo Subianto dalam rapat kerja kabinet di Istana pada 8 April 2026 yang meminta agar MBG difokuskan pada anak-anak kurang gizi. Hasto menilai, fokus tersebut perlu diperkuat dari hulu dengan menyasar ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.

“Kalau memang itu benar, kami menyambut dengan sangat gembira,” ujarnya.

Pemkot Yogyakarta, kata dia, siap mendukung implementasi kebijakan tersebut, termasuk dalam pendistribusian bantuan langsung ke rumah penerima. Saat ini tersedia 390 tim pendamping keluarga serta 169 tenaga kesehatan yang tersebar di kampung-kampung.

“Seandainya kita diperbolehkan untuk membantu, kita punya tenaga untuk mendeliver, mengantar ke rumahnya ibu hamil dan rumahnya balita,” katanya.

Hasto juga menekankan pentingnya intervensi pada kelompok balita di bawah dua tahun (baduta) yang diperkirakan mencapai sekitar 4.000 anak di Kota Yogyakarta.

“Kalau belum bisa menjangkau semua, yang 4.000 baduta itu bisa diselesaikan dulu,” ujarnya.

Selain itu, ia mencontohkan praktik di sejumlah negara maju yang telah memberikan perhatian khusus pada ibu hamil melalui bantuan makanan bergizi.

“Di negara-negara maju seperti Amerika, Swedia, Eropa, Australia, ibu hamil mendapatkan paket-paket makanan dari pemerintah,” kata Hasto.

Menurutnya, pendekatan tersebut efektif dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia karena intervensi dilakukan sejak masa kehamilan hingga awal kehidupan anak.

“Perhatian terhadap generasi penerus itu luar biasa. Karena memang proses biologis itu dimulai dari dalam kandungan sampai 1.000 hari pertama kehidupan,” ujarnya.

Ia berharap kebijakan MBG ke depan dapat lebih tepat sasaran dengan memprioritaskan kelompok rentan sebagai fondasi pembangunan kualitas generasi mendatang.

Reporter: Gigih Imanadi Darma

Editor: Widi RH Pradana