Anggaran Menu MBG Ramadan di Sleman: Porsi Kecil Rp8 Ribu, Porsi Besar Rp10 Ribu

Roti untuk menu MBG di salah satu SPPG di Sleman. Foto: Pandangan Jogja/Resti Damayanti

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tetap berjalan selama Ramadan dengan sejumlah penyesuaian menu dan skema distribusi, termasuk di Sleman. Kebijakan ini telah diatur dalam Surat Edaran BGN Nomor 3 Tahun 2026 tentang Pelayanan Program MBG pada Bulan Ramadan dan Idul Fitri.

Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bumdes Tridadi, Sleman, Anatansyah Ayomi Anandari, mengatakan anggaran bahan baku menu MBG Ramadan ini dibagi menjadi 2 kategori, yakni porsi kecil dan porsi besar.

“Untuk yang porsi kecil itu Rp8 ribu untuk Balita, TK, RA, PAUD, SD kelas 3. Kemudian yang porsi besar itu Rp10 ribu untuk SD kelas IV ke atas, bumil, busui,” kata Ayomi ditemui di SPPG Tridadi, Senin (23/2).

Ia menjelaskan, selama Ramadan menu yang biasanya disajikan dalam bentuk makanan siap santap kini dikemas dalam bentuk makanan kering. Komponen gizi tetap mengacu pada empat unsur utama, yakni karbohidrat, protein hewani, protein nabati, dan buah.

“Karbohidrat itu yang biasanya nasi itu nanti bisa diberikan roti, kemudian ubi atau kentang. Kemudian yang buah pun juga ada, kemudian protein hewani, yang biasanya kita memberikan mungkin ayam, lele, nah itu bisa diberikan dengan susu,” kata Ayomi.

“Kemudian protein nabatinya itu berupa kacang-kacangan. Kacang-kacangan itu nanti nanti keripik tempe, kemudian kacang polong, dan lain sebagainya. Itu pada intinya ada 4 item itu yang harus terpenuhi,” sambungnya.

Dapur SPPG di Sleman. Foto: Pandangan Jogja/Resti Damayanti

Diakuinya, takaran gizi menu Ramadan mungkin berbeda dengan hari biasa. Namun, komposisi gizi menu-menu tersebut telah dihitung oleh ahli gizi. 

Pihaknya tetap meminta data kandungan gizi kepada supplier terkait kadar gula dan protein sebagai bahan pertimbangan.

“Secara umum mungkin kita tidak bisa samakan dengan ompreng. Jadi kami melihatnya dari komposisi produknya,” kata Ayomi.

“Kami pun meminta seperti form kandungan gizinya, kemudian gulanya, kadar gulanya berapa, proteinnya berapa, itu untuk perbandingan atau pertimbangan dari arti gizinya,” ungkapnya.

Adapun SPPG ini diketahui menyasar 2.993 penerima manfaat yang terdiri dari anak sekolah, balita, ibu menyusui, dan ibu hamil. Skema pendistribusiannya pun dilakukan berbeda.

Penerima manfaat dari sekolah dilakukan setiap hari mengikuti jadwal pulang sekolah. Sementara khusus Bumil, Busui, dan balita, pendistribusian dilakukan dua kali seminggu, yakni Senin dan Kamis, dengan menu matang bagi yang tidak berpuasa.

Ia juga mengakui adanya tantangan, terutama terkait persepsi kualitas produk UMKM dibandingkan produk pabrikan. Namun, sesuai arahan di wilayah Sleman, pihaknya memprioritaskan pelibatan UMKM lokal. 

Ia berharap masyarakat tidak melihat program MBG dari satu sisi saja, karena selain menyasar anak-anak sebagai penerima manfaat, program ini juga melibatkan tenaga kerja dan pelaku UMKM lokal.