Suara Planet Sekarat di The Great Animal Orchestra

Suara Planet Sekarat di The Great Animal Orchestra

Selonjoran di kursi panjang di depan kolam renang beranda belakang Hotel Royal Ambarukmo Yogyakarta di sembarang sore, angin sepoi akan selalu berhembus dari pekarangan yang rimbun oleh pepohonan tinggi. Dan kicau burung merdu sekali, suaranya tak henti-henti. Tapi sayang, itu bukan suara burung asli di dalam sangkar, apalagi yang bertengger di pepohonan. Itu, suara burung yang disiarkan melalui perangkat audio yang dipasang di beberapa titik di sekitar kolam renang. Bagi pecinta burung, rasanya pedih sekali, mendapati kesempurnaan sore itu ternyata artificial belaka, bohongan.

Tapi gara-gara suara burung – dan suara binatang lainnya- tak ada seorang pun di muka bumi yang bisa lebih pedih dari Bernie Krause, musisi asal Amerika Serikat yang juga seorang pakar ekologi soundscape.

Sepanjang hidupnya, Krause yang berusia 80 tahun telah mengarsipkan suara sekitar 15.000 spesies hewan di habitat aslinya. Arsip tersebut menceritakan kisah yang menyedihkan : pemeriksaan teliti terhadap 5.000 jam rekamannya itu mengungkapkan bahwa banyak dari mereka kini tak ada lagi. “Ini lebih dari setengah,” katanya pada reporter Financial Times (FT) baru-baru ini, melalui sambungan telepon dari California. “Mungkin lebih dekat ke dua pertiga. Mereka telah punah.”

Nukilan dari rekaman Krause membentuk inti dari “The Great Animal Orchestra”, yang akan pentas perdana di London, Inggris pada 2 Oktober ini. Siapapun yang saat ini sedang melawat ke London, jahanam rasanya kalau sampai melewatkannya. Bagi kita di Indonesia, laman resmi proyek musik Krause ini bisa menggambarkan apa yang sedang dikerjakan oleh Krause.

Kepada FT, Krause mendorong para pendengarnya untuk menonton dan mendengarkan, dengan sangat hati-hati. Dia mengatakan itu adalah suara-suara dari alam liar yang memberikan “penilaian yang jauh lebih substansial dan langsung dari hubungan kita saat ini dengan kehidupan di Bumi daripada faktor lain yang muncul dalam pikiran”.

Krause mencontohkan, rekaman kawanan gajah, yang dia buat di Republik Afrika Tengah. Mereka berkumpul untuk mandi dan gajah-gajah itu mulai membuat suara dengan cara yang belum pernah dia dengar sebelumnya. “Kini kita tahu bahwa kawanan itu telah pergi karena habitatnya telah dirampas, dan kita tidak akan pernah mendengar suara itu lagi,” katanya. “Ada banyak contoh seperti itu.”

Suara-suara alam yang ia temukan, jauh dari kata harmonis secara universal, seperti yang biasa kita mengerti selama ini, bahwa mereka semuanya bahagia di alam raya. Sebaliknya, justru banyak kepedihan di sana. Suara panggilan yang dia kumpulkan dari berang-berang misalnya, menunjukkan nada kesengsaraan sebagai hasil dari aktivitas manusia. Dan itu adalah suara paling menyedihkan yang pernah dia dengar. “Kamu bisa mendengar semua hal yang menyimpang dari yang kita mengerti. Narasinya jelas, tetapi itu adalah narasi yang baru saja kami pahami. Kami belum memiliki kunci, tetapi kami sedang mengusahakannya.”

Pengunjung Museum Suara

Bernie Krause tidak suka disebut sebagai seorang konduktor. Sebaliknya, ia lebih nyaman disebut sebagai seorang pengunjung museum suara. Sebab menurutnya, budaya manusia modern adalah budaya visual dan suara sama sekali tidak dikenali, diabaikan dan tak ingin dimengerti.

“Kita adalah budaya visual. Semua yang kita ketahui tentang dunia adalah melalui apa yang kita lihat. Tapi suara ada di ujung skala. Itu fana. Anda tidak bisa menyentuhnya, menciumnya, atau melihatnya. Apa yang kami coba lakukan adalah membalikkan keadaan, ” paparnya.

Rekaman Bernie adalah sebuah paradox dalam caranya menggambarkan bagaimana dunia industri memiliki dampak masif pada hilangnya spesies, tetapi pada saat yang sama menunjukkan asal-usul seni dan musik.

“Pasti ada korelasi antara apa yang dialami leluhur kita, dan bagaimana kita mulai menggubah musik, ” katanya.

Menjawab pertanyaan reporter FT tentang perasaannya akan masa depan dunia, Bernie Krause mengutip seorang penulis dan politisi, Clare Boothe Luce, yang pernah berkata dalam sebuah ceramah, bahwa perbedaan antara yang optimis dan pesimis adalah bahwa seorang pesimis selalu memiliki lebih banyak pengalaman.

“Saya berharap. Tapi tidak optimis. ” (ESP/YK1)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *