Pembangunan Jembatan Kewek Yogya Diproyeksikan Memakan Waktu 9 Bulan

Pemerintah Kota Yogyakarta memproyeksikan pembangunan kembali Jembatan Kewek memakan waktu sembilan bulan sejak pekerjaan fisik dimulai. Tahap pengadaan ditargetkan berlangsung pada Maret 2026, setelah proses perencanaan dan kajian teknis rampung.

Kepala Bidang Jalan dan Jembatan DPUPKP Kota Yogyakarta Hasri Nilam Baswari mengatakan estimasi durasi tersebut telah disusun berdasarkan kebutuhan konstruksi.

“Dari rencana kami awalnya sembilan bulan, jadi sampai dengan Desember,” ujarnya saat ditanyai awak media, Senin (19/1).

Menurut Nilam, saat ini asistensi Detail Engineering Design (DED) bersama Satker P2JN telah mencapai 80 persen.

“Asistensi DED sudah di 80 persen, sambil menunggu dokumen lingkungan dan kajian andalalinnya. Rencananya mungkin bulan Maret untuk pengadaannya,” katanya.

DPUPKP tengah melakukan pengujian tanah untuk menentukan posisi lapisan keras sebagai dasar fondasi.

“Kami mengambil sampel tanah untuk menentukan tanah kerasnya di kedalaman berapa. Fondasi jembatan harus di atas tanah keras,” jelas Nilam.

Data awal dari pengujian sebelumnya serta pembanding Jembatan Amarta dan Kleringan menunjukkan lapisan keras berada di sekitar 20 meter.

“Pengujian tambahan ini untuk memastikan bahwa memang kedalaman tanah kerasnya di kisaran 20 meter,” ujarnya.

Terkait desain tampilan, Nilam menyebut masih ada proses asistensi dengan Dewan Warisan Budaya.

“Fasadnya masih kami asistensikan, mungkin ada perubahan tapi tidak banyak. Perubahan krusial belum bisa kami sampaikan,” katanya. 

Ia juga menegaskan alokasi anggaran tidak berubah dari rencana awal. Rencana pembangunan ini menjadi kelanjutan dari kebijakan penutupan parsial Jembatan Kewek yang telah berjalan. 

Saat ini arus menuju Malioboro dialihkan ke Kridosono dan Simpang Gramedia, sementara kendaraan besar dilarang melintas karena kondisi struktur jembatan melemah.