Kisah Pengelola Kafe AOA di Jogja dalam Melawan Kapitalisme

Kisah Pengelola Kafe AOA di Jogja dalam Melawan Kapitalisme

Tidak ada lagi pemodal atau kapitalis yang mengambil profit dari keringat kami dan memperkaya dirinya sendiri lewat akumulasi profit tersebut.

Begitu pernyataan berani dari manajemen kafe AOA Space yang dipajang di website-nya. Sebuah pernyataan yang gagah dan terasa sangat kiri, memang.

AOA mem-branding dirinya sebagai tempat usaha kafe dan ruang kreatif, tanpa bos yang berhak menentukan segala sesuatu, memecat pekerja, memotong gaji, atau menghukum pekerja karena modal yang dia miliki. Sesuatu yang tentu saja berbanding balik dengan proses ekonomi sehari-hari yang dikenal luas oleh masyarakat hari ini, yakni keberanian kehilangan modal adalah strata tertinggi dari seluruh struktur bisnis.

Jadi, seluruh proses kerja di dalam AOA dilakukan dari, oleh, dan untuk seluruh pekerjanya lewat sebuah forum tertinggi yang demokratis: Dewan Pekerja AOA Space. Begitu tertulis di halaman web.

Mereka juga berupaya menghapus spesialisasi kerja yang lazim diciptakan di tatanan kapitalisme dewasa ini. Mereka merotasi para pekerja, sehingga memungkinkan adanya saling ajar keahlian di antara pekerja. Sehingga koki bisa belajar jadi barista, barista bisa belajar jadi tukang kebun yang baik, tukang kebun bisa belajar jadi pengelola program, tukang parkir, dan sebagainya.

Para pekerja bekerja secara sukarela sesuai minat, kemampuan, kebutuhan, serta keluangan waktunya. Benar-benar memerdekakan pekerja, cocok sekali bagi orang-orang yang muak dengan suasana kerja yang formal dan sarat tetek bengek aturan yang bikin stress.

Berdarah-darah Melawan Kapitalisme

kafe aoa melawan kapitalisme
Sugik (kiri) dan Srawung, dua pengelola AOA Kafe. Foto : Widi Erha

Tapi, ya, kenyataan itu kejam dan tak seindah yang dicita-citakan. Sugi, salah seorang pengelola sekaligus pekerja di AOA mengatakan, ternyata memang benar-benar tak mudah melaksanakan apa yang mereka impikan.

“Agak berat sih sebenarnya. Tantangannya, mungkin karena kita benar-benar sukarela, berapa porsi waktu yang diberikan untuk AOA ini, juga porsi pikiran sukarela, akibatnya banyak aspek dari bisnis kuliner yang nggak bisa kita jawab,” kata Sugi ketika ditemui di AOA, Selasa (17/12) malam.

Aturan yang longgar justru membuat kinerja pekerja kurang optimal, sehingga pengelolaan AOA bisa dikatakan, tak bisa atau tak memiliki fokus. Salah satu contoh, karena tidak ada jam kerja, para pekerja masuk sesuai dengan waktu luang yang mereka miliki. Sehingga bisa saja kafe tutup karena tak ada yang memiliki waktu luang.

“Ya seselonya (luangnya), siapa yang kosong waktunya ya dia yang masuk. Kalau semua enggak ada yang punya waktu ya tutup,” lanjut Sugi.

Sekitar satu setengah tahun AOA ini berjalan tertatih-tatih di tengah persaingan bisnis kuliner yang luar biasa ketat di Jogja. Apalagi lokasi usaha mereka di Jalan Selokan Mataram bisa dibilang pusat bisnis serupa. Di sepanjang jalan Selokan Mataram, kanan maupun kiri, berjajar kafe-kafe serupa, dari yang kelas proletariat sampai kelas borjuis, semua ada.

Soal jam kerja saja, sulit untuk bersaing. Apalagi untuk produktifitas dan inovasi usaha, karena modal mepet dan sisa bagi hasil yang dibagi untuk lima orang pengelola juga tak seberapa, sulit bagi AOA untuk bisa menjawab kebutuhan konsumen.

“Kalau harus bersaing dengan bisnis konvensional memang sulit,” ujar Sugi.

Padahal sebenarnya AOA memiliki sedikit kelonggaran karena tak perlu membayar sewa tempat di ruko dua lantai yang lumayan luas itu.

“Ini milik kawan yang disumbangkan untuk dikelola bersama. Kalau suruh bayar tempat segala, dari hasil jualan ya belum bisa nutup. Untuk bagi hasil saja juga masih sangat sedikit,” jelas Sugi.

Dekat dengan Lingkaran Gerakan

dekat dengan lingkaran gerakan
Pameran lukisan di AOA Kafe. Foto : Widi Erha

Di awal berdirinya, AOA tertolong oleh komunitas atau organisasi yang kerap menggelar kegiatan di sana. Berbagai organisasi mahasiswa, baik dari intra maupun ekstra kampus kerap menggelar diskusi atau nonton bareng film-film tertentu di AOA. Bahkan, anak-anak Anarko yang sangat kental dengan dunia pergerakan juga kerap menggelar diskusi di sana. Film produksi Watchdoc pun pernah diputar bareng di kafe ini.

Hal itu menjadi sesuatu yang cukup membantu promosi mereka ke khalayak, meski tak ada ongkos sewa tempat yang mereka tetapkan. Setiap organ yang mengelar kegiatan di sana membayar biaya kebersihan dengan besaran sukarela. Namun sekarang, kata Sugi yang juga mantan aktivis Partai Rakyat Demokratik (PRD) itu, kegiatan-kegiatan semacam itu sudah semakin jarang di AOA.

“Sekarang kelompok-kelompok yang disebut Anarko itu juga sudah jarang. Jadi enggak ada yang sifatnya nge-basecamp ya,” kata Sugi.

Kini, selain menjual produknya sendiri, AOA juga menjual produk-produk UMKM dari jejaring persekawan yang berupa t-shirt, kerajinan, pernak-pernik, makanan, dan minuman siap saji. Sistem yang diterapkan pun sama, titip jual dengan bagi hasil. Tapi, hal itu tampaknya tak terlalu membantu.

“Tapi ya sedikit yang laku, jarang yang beli karena memang pengunjung kafe lagi sepi,” kata Srawung, pengelola AOA yang saat ini masih kuliah di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga.

Kini AOA berjalan dengan sisa-sisa yang dimiliki. Sugi sendiri mengakui betapa sulitnya menerapkan konsep bisnis seperti yang dicita-citakan. Sebenarnya, obrolan untuk ganti haluan usaha ke arah mainstream sudah mencuat di tengah para pengelola. Namun, melihat banyaknya hal yang harus disiapkan (modal dan tetek bengek lainnya) sampai sekarang hal itu masih menjadi wacana yang tak kunjung terealisasi.

“Gagasan model usaha seperti ini memang enggak mudah. Sementara ini kita juga masih memutuskan untuk, ya sudah jalan apa adanya saja dulu,” ujar Sugi.

Sepanjang Desember ini, ada event pameran lukisan di AOA yang diadakan oleh jejaring persekawanan mereka. Kalau lewat Selokan Mataram Condong Catur, ada baiknya pembaca mampir. Sebab, AOA bisa saja tutup esok hari, jika pemilik tempat, yang adalah kawan para pengelola, menyatakan tempat akan dia pakai sendiri. Mampirlah, atas nama uji coba perlawanan pada metoda kerja kapitalisme yang menindas para pekerja. (Widi Erha Pradana / YK-1)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *