Gun, Ganja, Golf, 3 Bisnis Booming di Masa Pandemi Corona di Amerika Serikat

Gun, Ganja, Golf, 3 Bisnis Booming di Masa Pandemi Corona di Amerika Serikat

Amerika Serikat resmi memuncaki daftar negara dengan jumlah kasus COVID-19 terbanyak di dunia pada 26 Maret lalu. Jumlah pasien yang terus melonjak sudah membuat rumah sakit kewalahan. Praktik physical distancing yang dicanangkan membuat beberapa jenis usaha ditutup untuk sementara waktu, untuk meminimalisir penyebaran virus, masyarakat diminta untuk tetap dirumah.

Pandemi coronavirus memaksa kita sebagai mahluk paling beradab di planet ini harus memutuskan jenis usaha vital yang harus tetap berjalan dan jenis usaha yang bisa dihentikan sementara. Hampir semua negara sepakat, bahwa: petugas kesehatan, penegak hukum, pekerja utilitas, produksi makanan, dan komunikasi masih harus tetap beroperasi.

Namun ada beberapa jenis usaha yang tampaknya tidak terlalu penting justru laris manis di tengah bencana kesehatan ini. Di Prancis, toko-toko yang berspesialisasi di bidang anggur, keju dan kue dinyatakan “esensial.”

Di Amerika, mantra 3G adalah: Gun, Ganja, dan Golf, tiga hal yang tidak “esensial” namun “booming” di tengah pandemi. Kekhawatiran terjadinya krisis dan masalah mental akibat karantina menjadi landasan tindakan-tindakan ini dilakukan.

Gun

Gun, Ganja, Golf, 3 Bisnis Booming di Masa Pandemi Corona di Amerika Serikat
Foto : Pixabay

Toko-toko senjata kini telah ditambahkan ke dalam daftar bisnis-bisnis yang tidak penting dan terpaksa ditutup di tengah wabah coronavirus di AS. Sebelumnya, selama dibiarkan tetap terbuka, publik Amerika menanggapi epidemi virus corona dengan jumlah pembelian senjata yang memecahkan rekor.

Hampir 1,2 juta total pemeriksaan latar belakang senjata dilakukan dalam satu minggu, mulai 16 Maret, memecahkan rekor sebelumnya di tahun 1998, menurut data FBI. Pada Jumat 20 Maret lalu, rekor nasional pemeriksaan lata belakang untuk pembelian senjata dalam satu hari pecah: 210,308.

Aktivis pendukung kontrol senjata AS mendesak orang Amerika untuk berpikir dua kali sebelum panik membeli senjata, terutama jika mereka belum pernah memiliki senjata sebelumnya. Meskipun angka kriminalitas menurun, karantina di rumah membuat anak-anak berpotensi memiliki akses pada senjata, meningkatkan risiko bunuh diri, yang angkanya berada di sekitar dua pertiga dari kematian akibat senjata api di AS setiap tahun. Juga mengingat bahwa Amerika kerap mengalami penembakan massal. Selama 2020 ini, 84 orang terbunuh dan 287 orang terluka dalam 70 kasus penembakan massal.

David Liu, pemilik Arcadia Firearm & Safety di San Gabriel Valley LA, mengatakan tokonya dipenuhi pelanggan yang membuatnya hampir tidak bisa makan dan tidur. Los Angeles adalah rumah bagi 1,5 juta Asian-American, lebih banyak dari kota manapun di seantero AS. Dia mengatakan bahwa sebagian besar pelanggannya adalah orang berlatar belakang Asia.

Liu memperkirakan “80 hingga 90 persen” pelanggannya sekarang adalah pembeli senjata pertama kali, dan semakin banyak mencakup orang Amerika dari latar belakang Vietnam, Filipina, dan Jepang.

Ketika berita wabah di China pertama kali muncul, pelanggannya “khawatir menjadi sasaran karena mereka orang Asia”, kata Liu.

Serangan pada orang-orang berwajah Asia dilaporkan terjadi di Los Angeles, San Francisco, New York dan kota-kota lain di dunia sejak pandemi muncul. Amerika sendiri tidak asing dengan hal-hal berbau xenophobia, terutama karena presidennya lebih memilih term “chinese virus” daripada “corona virus”.

Ganja

Gun, Ganja, Golf, 3 Bisnis Booming di Masa Pandemi Corona di Amerika Serikat
Ilustrasi ganja dalam bentuk cair di botol kaca. Foto : Istimewa.

Banyak usaha yang mengalami kerugian saat ini, beberapa malah terancam bangkrut. Namun usaha ganja untuk keperluan medis meningkat dalam masa pandemi ini. Sama seperti kasus senjata atau tisu toilet, orang-orang tampaknya ingin menumpuk stoknya di rumah masing-masing. Perusahaan-perusahaan yang bergerak di bisnis ini merayakan naiknya harga saham mereka di saat bisnis yang lain anjlok.

Pendapatan toko rata-rata naik 52% hingga 130% dibandingkan dengan Januari di lebih dari 1.300 toko yang menggunakan Jane Technologies, platform e-commerce ganja. Jane juga melaporkan jumlah pengguna baru yang memesan secara online telah meningkat 142% dibandingkan bulan lalu.

Steven DeAngelo, pendiri Harbourside yang merupakan bisnis ganja berlisensi terbesar di California, mengatakan bahwa pengalamannya bulan lalu adalah sesuatu yang baru. “Kami memiliki hari penjualan terbesar kami,” katanya. “Penjualan naik 20-25% di semua lokasi.”

DeAngelo mengatakan manajernya bekerja keras untuk memastikan karyawan menjaga jarak sosial baik di toko maupun di fasilitas mereka. Sebagian besar pelanggan menerima barang melalui mekanisme pengantaran curbside.

“Kami telah mendorong semua klien kami untuk mempertimbangkan bentuk ganja yang tidak dihirup saat ini,” katanya, mengingat kekhawatiran tentang virus tersebut. “Jika kita memiliki situasi di mana kita semua khawatir tentang penyakit pernapasan, maka mungkin ide yang baik untuk berpikir tentang menggunakan ganja melalui beberapa metode lain selain paru-paru.”

Persediaan tidak akan menjadi masalah. “Kita bisa terus menjual semua ganja yang kita tanam di pertanian kita sendiri, dan kita tidak akan kehabisan itu, aku janji.” Kata DeAngelo yang sering dijuluki sebagai “bapak industri ganja legal.”

Golf

Gun, Ganja, Golf, 3 Bisnis Booming di Masa Pandemi Corona di Amerika Serikat
Foto : Pixabay

Jika di Indonesia kita dibingungkan dengan permasalahan boleh mudik atau tidak, di AS masalahnya adalah boleh main golf atau tidak.

Dari semua tempat publik yang ditutup selama pandemi coronavirus, lapangan golf ada dalam golongan tempat publik yang tidak diminta untuk berhenti beroperasi, juga bukan golongan usaha “penting” yang harus tetap beroperasi. 12 negara bagian sudah menutup fasilitas golf di wilayahnya masing-masing, sisanya masih mengizinkan warganya bermain golf, setidaknya dalam bentuk terbatas.

Para pejabat golf menulis surat melobi Gubernur Mike DeWine untuk memungkinkan lapangan tetap buka meskipun ada perintah tetap di rumah di seluruh negara bagian. Surat itu menjelaskan bertapa pentingnya golf di Ohio. Ini adalah industri senilai $ 2 miliar yang terdiri dari lebih dari 700 lapangan golf yang mempekerjakan sekitar 68.000 orang.

“Golf adalah salah satu dari sedikit hiburan Amerika yang dapat kita nikmati dengan aman saat ini,” bunyi surat itu. “Membiarkan fasilitas tetap terbuka akan menawarkan warga Ohio – termasuk anak-anak – tempat untuk berada di luar ruangan, menikmati alam, berolahraga, dan bekerja melalui sedikit kecemasan yang kita semua rasakan saat ini.”

Menurut hasil survey yang dilakukan National Golf Foundation pada 25-27 Maret lalu, 74% dari 1,006 lapangan golf seluruh AS masih beroperasi dalam masa pandemi. Lebih khusus lagi, laporan ini menemukan bahwa 54% dari lapangan golf kota masih buka, 78% dari kursus harian masih beroperasi dan 77% dari klub golf masih aktif bermain.

Sementara itu, sebuah petisi ‘Let New Hampshire Golf’ sudah ditandatangani 6.400 orang lebih yang meminta Gubernur New Hampshire, Chris Sununu, untuk membuka kembali lapangan golf di wilayahnya. Petisi ini menyepakati imbauan pemerintah agar warga tetap berada di rumah, namun menambahkan, bahwa “tidak masuk akal jika taman bermain tetap dibuka tapi lapangan golf ditutup.” (Anasiyah Kiblatovski / YK-1)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *