Dari Masjid hingga Musala Kecil, Warga Muhammadiyah di DIY Gelar Tarawih Perdana

Jemaah salat tarawih di sebuah masjid di Sidokarto, Godean, Sleman, Selasa (17/2). Foto: Pandangan Jogja/Resti Damayanti

Warga Muhammadiyah di DIY mulai menggelar Salat Tarawih perdana pada Selasa (17/2) malam. Sejumlah masjid besar, seperti Masjid Kauman, Masjid Kampus Universitas Gadjah Mada, Masjid Nurul Ashri, hingga musala di lingkungan permukiman turut melaksanakan tarawih perdana tersebut.

Pelaksanaan tarawih ini menandai dimulainya puasa Ramadan bagi warga Muhammadiyah pada Rabu (18/2). Sementara itu, Pemerintah Indonesia menetapkan 1 Ramadan 1447 Hijriah jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026.

Pantauan Pandangan Jogja di musala wilayah Sidokarto, sekitar 100 warga mengikuti Salat Tarawih perdana. Usai salat, jamaah juga menerima nasi berkat yang dibagikan oleh pengurus musala.

Imam Salat Tarawih di musala tersebut, Ashari, menyampaikan sikap saling menghormati terkait perbedaan penentuan awal puasa. Ia menegaskan perbedaan metode tersebut telah lama dikenal dalam kajian fikih.

“Monggo dipersilahkan masyarakat meyakini yang mana, tidak usah merasa bahwa itu menentang pemerintah,” kata Ashari ditemui usai Salat Tarawih, Selasa (17/2) malam.

“Dua-duanya ada dalam fikih dan berlangsung lama,” tambahnya.

Ashari berharap perbedaan penetapan awal Ramadan tidak memicu perdebatan di tengah masyarakat.

“Berharap pemberitaan ini ke masyarakat tidak terpecah belah, termasuk rakaat tarawih kan beda-beda, semua ada dasar hukumnya,” kata Ashari.

Reporter: Resti Damayanti

Editor: Widi RH Pradana