
Manajemen PSIM Yogyakarta menjelaskan alasan memensiunkan nomor punggung 91 milik Rafinha. Keputusan itu diambil sebagai bentuk penghormatan atas kontribusi besar pemain asal Brasil tersebut bagi Laskar Mataram.
Manajer PSIM Razzi Taruna menyebut langkah itu terinspirasi dari praktik klub luar negeri dalam menghargai pemain berpengaruh.
“Kiblat saya juga banyak nonton liga luar. Contoh yang saya lihat itu kejadian di Birmingham, Jude Bellingham. Dia berkontribusi besar, klubnya di ambang bangkrut, lalu dijual ke Dortmund dengan nilai puluhan juta euro sehingga klub terselamatkan secara finansial,” jelas Razzi saat pertemuan dengan awak media, Kamis (15/1) lalu.
Menurut Razzi, kehadiran Rafinha menjadi titik balik PSIM setelah lama tertahan di Liga 2. “PSIM 18 tahun enggak pernah naik Liga 1. Akhirnya kita bawa Rafinha, dia cetak 20 gol dari 22 pertandingan, jadi pemain terbaik dan impact-nya luar biasa,” ujarnya.
Manajemen menilai sosok Rafinha sulit digantikan, bukan hanya dari sisi teknis. “Seluruh manajemen merasa kita tidak akan menemukan Rafinha lagi. Bukan hanya kualitas, tapi sosok seperti Rafinha itu enggak akan kita temukan lagi,” tegasnya.
Kedekatan emosional dengan suporter juga menjadi pertimbangan. “Rafinha terkenal emosional sekali dengan suporter. Ada ubur-ubur ikan lele, nyanyi lagu Jawa. Rafinha itu sejarah kita,” kata Razzi.
Ia memastikan keputusan tersebut murni bentuk apresiasi. “Bukan karena tekanan suporter, tapi memang bentuk terima kasih kepada Rafinha,” pungkasnya.
