Tumpukan Sampah Picu Talud Kali Buntung Yogya Ambrol, Jembatan Jetis–Tegalrejo Ditutup

Tumpukan sampah disebut menjadi pemicu utama ambrolnya talud Kali Buntung di Kricak, Tegalrejo, Yogya. Foto: Pandangan Jogja/Gigih Imanadi Darma

Tumpukan sampah setinggi hingga sekitar tiga meter disebut menjadi penyebab utama ambrolnya talud Kali Buntung di Bangunrejo RT 57 RW 13, Kelurahan Kricak, Kemantren Tegalrejo, Kota Yogyakarta. Dampak kerusakan tersebut membuat jembatan penghubung Kemantren Jetis–Tegalrejo ditutup sementara demi keselamatan.

Kepala BPBD Kota Yogyakarta, Nur Hidayat, mengatakan lokasi tersebut menjadi titik terparah setelah hujan deras mengguyur wilayah Kota Yogyakarta sejak Sabtu (17/1). Ambrolnya talud sepanjang sekitar 10 meter menyebabkan balai pertemuan RT 57 yang berdiri di atasnya ikut terdampak dan kini berada dalam kondisi menggantung.

“Paling parah di Bangunrejo RT 57 RW 13 Kricak, Tegalrejo. Balai pertemuan RT 57 menggantung di atas talud yang ambrol,” kata Nur dalam keterangan resminya, Minggu (18/1).

Kepala Bidang Jalan dan Jembatan DPUPKP Kota Yogyakarta, Hasri Nilam Baswari, menjelaskan kerusakan tidak hanya dipicu oleh curah hujan, tetapi juga penumpukan sampah yang telah berlangsung dalam waktu lama.

“Tahun lalu kami asesmen, ketinggian sampah di lokasi sudah sekitar tiga meter dari dasar sungai. Tumpukan ini membelokkan aliran air sehingga membahayakan fondasi talud,” jelas Hasri kepada awak media saat meninjau lokasi, Senin (19/1).

Ia menambahkan, kondisi tersebut diperparah oleh keberadaan bangunan yang memanfaatkan talud sebagai tumpuan dinding. “Yang seharusnya hanya talud, kemudian ditumpangi menjadi dinding bangunan. Itu yang membuat struktur makin rentan,” tegasnya.

Untuk penanganan awal, Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSO) akan melakukan langkah darurat berupa pemasangan beronjong serta pembersihan sampah menggunakan alat berat. Beronjong merupakan konstruksi penahan tebing dari anyaman kawat baja berisi batu untuk memperkuat struktur tanah agar tidak terus tergerus aliran air.

“BBWSO masuk dulu untuk penanganan darurat. Setelah itu baru kami perbaiki talud dan jembatannya,” ujar Hasri.

Namun, proses penanganan masih terkendala akses alat berat. BBWSO masih memetakan jalur masuk eskavator karena sebagian sisi sungai memiliki akses yang sempit.

Selain persoalan sampah, DPUPKP juga menyoroti keberadaan bangunan di atas area wedi kengser, yakni zona sempadan sungai yang secara teknis rawan tergerus dan seharusnya tidak digunakan untuk bangunan permanen.

“Mestinya di atas wedi kengser tidak didirikan bangunan, apalagi dindingnya ditaruh di atas talud,” kata Hasri.

DPUPKP mengakui pemeliharaan di lokasi tersebut telah lebih dari satu tahun tidak dilakukan. Penataan kawasan, termasuk kemungkinan penertiban bangunan di sempadan sungai, direncanakan sebagai program jangka panjang.

“Untuk pemasangan bronjong relatif cepat, tetapi pembersihan sampah yang butuh waktu. Durasi penanganan sangat bergantung pada BBWSO dan koordinasi lintas instansi,” pungkasnya.

Reporter: Gigih Imanadi Darma

Editor: Widi RH Pradana